Gandung Pardiman Sebut Pernyataan Agus Widjojo Sakiti Hati Rakyat

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kontroversi pernyataan Gubernur Lemhanas Agus Widjojo yang menyebut TNI bukan milik rakyat tapi milik Presiden mendapatkan tanggapan beragam dari berbagai pihak. Ketua Dewan Paripurna Pemuda Pancamarga Mada DIY yang juga Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Gandung Pardiman meminta kepada para pejabat dan tokoh nasional agar hati-hati dalam menyampaikan pernyataan agar tidak menimbulkan kegaduhan di negara yang saat ini sedang fokus memerangi pandemi Covid-19.

“Para pejabat dan tokoh nasional hendaknya bisa menjaga ucapannya agar tidak membuat gaduh dengan pernyataan yang kontroversial seperti pernyataan Gubernur Lemhanas yang menyatakan TNI bukan milik rakyat tapi milik Presiden. Pernyataan ini tentu akan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Kita saat ini sedang fokus betul menangani pandemi covid agar masyarakat bisa kembali normal. Hasil penanganan Covid-19 Indonesia terbaik se-ASEAN dan juga di sektor ekonomi. Hal ini harus disyukuri bukan malah membuat blunder yang antagonis. Oleh karena itulah mari kita jaga ucapan kita,” tegas Gandung Pardiman yang juga menjabat sebagai Pembina Yon Yudha Putra, dalam keterangan persnya, Rabu (13/10/2021).

Lebih lanjut Gandung Pardiman mengajak agar semua ingat pesan Panglima Besar Jenderal Sudirman bahwa TNI milik rakyat dan kekuatan TNI ada di rakyat. Panglima Jenderal Sudirman berkata, “Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapa pun juga”.

Menurut Gandung, pesan dari Panglima Jenderal Sudirman sudah jelas, tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapa saja. Sehingga pernyatan Gubernur Lemhanas tersebut jelas menyakiti hati rakyat. Tentara dengan rakyat adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

“Hubungan TNI dengan rakyat itu ibarat ikan dan air. Tatkala rakyat sebagai ikan maka TNI sebagai airnya. Demikian pula sebaliknya tatkala TNI sebagai ikan maka rakyat sebagai airnya, kedua duanya tidak dapat dipisahkan,” ujar Gandung yang juga menjabat sebagai Panglima Gerakan Pasukan Anti Komunis (Gepako).

Gandung menegaskan keberhasilan Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan kemudian mempertahankannya, tidaklah luput dari peran besar rakyat sebagai komponen pendukung utama yang kini disebut sebagai veteran. Tentara, dalam hal ini TNI, tidak akan ada apa-apanya jika tidak memiliki sokongan kuat dari rakyat. “Pernyataan dari seorang purnawirawan jenderal TNI ini jelas menyakiti hati Rakyar,” tegas Gandung Pardiman yang merasa dibesarkan oleh Keluarga Besar ABRI (KBA) waktu itu.

Jikalau ada tentara yang milik Presiden atau Pemenang Pilkada, menurut Gandung, itu secara personal dan bukan secara institusi. Oleh karena itulah sebagai Wakil Rakyat, Gandung Pardiman berharap agar Sumpah Prajurit dan Sapta Marga dipegang teguh serta selalu ingat pesan dari Panglima Besar Jenderal Sudirman dipegang teguh betul oleh prajurit TNI baik yang masih aktif maupun yang sudah purna. “Secara institusi, TNI jelas milik rakyat, itu harga mati,” pungkas Gandung Pardiman. (Dev)

BERITA REKOMENDASI