Gedung DPRD DIY Dulu Disebut ‘Gedung Setan’, Ini Sebabnya

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY yang terletak di Jalan Malioboro dibangun pada tahun 1878 oleh perkumpulan orang Belanda (Vrijmetselarij) di Yogyakarta. Bangunan dipergunakan untuk pertemuan kaum mason.

Bangunan dikenal sebagai Loge/ Loji Mataram atau Loji Mason. Sedangkan masyarakat setempat pada waktu itu menyebutnya sebagai Gedung Setan karena upacara penerimaan anggota baru mason selalu diliputi kerahasiaan dan upacara tertentu, dalam bahasa Belanda disebut Huis Van Overdenking atau dalam Bahasa Jawa disebut Omah Pewangsitan.

Abdurrachman Surjomihardjo dalam bukunya Kota Yogyakarta Tempo Doeloe menyebut istilah kemasonan dipakai untuk mengartikan kata freemasonry atau vrijmetselarij dalam bahasa Belanda.

Gerakan tersebut merupakan aliran pembebasan pikiran yang menerima sesama manusia dalam kedudukan dan kesempatan yang sama yakni tanpa membedakan bangsa, warna kulit, dan agama. Bertujuan untuk ikut serta dalam proses perkembangan suatu bangsa dan negara secara serasi.

Presentase keanggotaannya terdiri dari 54,35 persen pegawai pemerintahan, 21,74 persen adalah para ahli (hukum, insinyur,dll), 17,39 persen dokter, dan 6,52 persen pembesar Kraton.

Sejak akhir abad ke-19, gerakan tersebut mulai menarik perhatian para bangsawan pribumi di lingkungan keluarga Paku Alam. Diawali dengan Paku Alam V yang menjadi anggota mason, diikuti Paku Alam VI dan Paku Alam VII.

BERITA REKOMENDASI