Gegayuhan dan Aswini Bertarung di FFMI Lampung

YOGYA, KRJOGJA.com – Dua film berjudul 'Gegayuhan' (skenario-sutradara Rizkan) dan 'Aswini' (skenario-sutradara Dila) karya mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) lolos kurasi tahap 2. Karya tersebut siap bertarung di ajang Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) Ristekdikti  di kampus Institut Informatika Bisnis Darmajaya, Lampung, Kamis-Sabtu (18-20/07/2019) mendatang. 

Dr Dedi Pramono MHum (Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni/Bimawa UAD) dan Danang Sukantar MPd (Kabid Pengembangan Kemahasiswaan Bimawa) mengatakan dua film tersebut lolos seleksi tahap 2 merupakan kejutan bagi Bimawa UAD. "Tim atau komunitas ini memproduksi film secara mandiri, biaya sendiri. Setelah lolos baru memberi tahu kami di Bimawa UAD. Ini surprise," kata Dedi Pramono di Kantor Bimawa, kampus 1 UAD, Jalan Kapas, Semaki.

Dikatakan Dedi Pramono, sebagai bentuk kepedulian, tim yang akan berangkat ke Lampung didukung Bimawa UAD. "Sebenarya ada satu film lagi berjudul Karso, tetapi belum lolos," kata Danang Sukantar UAD, sambil menegaskan, potensi, bakat dan minat kreatif mahasiswa ini layak diapresiasi.

Rizkan dan Dila mengatakan, film "Gegayuhan' berlokasi syuting di Patuk Gunungkidul, film 'Aswini' lokasi syuting di Srandakan Bantul. Film yang diproduksi mahasiswa ini satu film menghabiskan dana rata-rata Rp 3 juta, terutama untuk menyewa peralatan syuting dan proses produksi. Rizkan menyebutkan, keinginan membuat film sebenarnya sudah lama, terutama saat KKN di Patuk Gunungkidul. 

"Film berkisah tentang impian  anak desa ingin memiliki dan membuat robot. Saat syuting menggunakan robot betulan kreasi mahasiswa UAD yang terhimpun dalam Robot Development Community," ujar Rizkan. 
Berbeda dengan 'Aswini' cerita tentang suami-istri, salah satunya melakukan tindak kekerasan. "Bagi saya ini produksi kedua, sebelumnya menggaelrap film berjudul 'Batas' bersama TVUAD," ucap Dila.

Fani Dias Adi Prabowo, dosen film, Prodi Komunikasi UAD mengatakan, mengikuti Festival Film apapun labelnya, sesungguhnya selain teknis praproduksi, produksi, pascaproduksi, sebenarnya yang dijual adalah ide. "Memproduksi film menjual ide apa? Itu penting sebagai bentuk tawaran nilai kepada penonton," ujarnya. (Jay).

BERITA REKOMENDASI