Gejayan Memanggil Gelar Lomba Mural ‘Dibungkam’

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Akun Gejayan Memanggil dari gerakan Aliansi Rakyat Bergerak, membuat lomba mural dengan tajuk ‘Dibungkam’. Lomba tersebut merupakan respon atas upaya pembungkaman penguasa atas kritik rakyat yang disampaikan lewat gambar dan tulisan.

Lomba tersebut diposting dua hari lalu, Senin (23/08/2021) dan akan berlangsung sepekan kedepan. Lomba ini langsung mendapat respon dari sosial media. Kriteria lomba pun disebutkan gamblang yakni keberanian, semangat melawan, diapresiasi rakyat, tidak SARA (Rasisme) dan aparat merespon cepat untuk menghapus karya mural.

Tajuk lomba Dibungkam ini tampaknya lekat dengan peristiwa penghapusan karya mural ‘Dibungkam’ di salah satu sisi Kretek Kewek akhir minggu lalu. Karya itu belum sempat 24 jam terpasang, lalu buru-buru dihapus Satpol PP Kota Yogyakarta dengan alasan melanggar Peraturan Daerah juga bermuatan provokatif.

Mimin Muralis, bukan nama sebenarnya, pengelola akun Gejayan Memanggil mengatakan lomba mural tersebut dibuat sebagai kritik atas pembungkaman suara rakyat yang diwujudkan melalui gambar dan tulisan. Lomba tersebut bisa diikuti siapa saja dan dari mana saja seluruh wilayah Indonesia.

Para peserta diberi kemudahan mengirimkan karya, yakni dengan mengunggah melalui akun masing-masing lantas menandai akun Gejayan Memanggil. Kemudian peserta tinggal mengkonfirmasi melalui direct message akun Gejayan Memanggil.

“Kami bukan akun buzzer dan tidak punya uang, jadi kami hadiahi eksposure bagi pemenang. Kedepan bisa dijadikan desain baju atau paper art yang bisa dipesan. Keuntungannya sebagian untuk pemenang, sebagian untuk gerakan rakyat bantu rakyat,” ungkapnya pada wartawan.

Terkait adanya kemungkinan adanya ancaman pidana bagi peserta, Gejayan Memanggil meminta peserta untuk memahami resiko ketika berpartisipasi, namun juga menyatakan tak akan tinggal diam. Gejayan Memanggil bisa menghubungkan peserta ke jejaring bantuan hukum namun tetap dalam konteks peserta bertanggungjawab atas kehendak membuat mural.

Sebelumnya diberitakan, sebuah karya mural dihapus tak sampai 24 jam oleh petugas di satu sisi Kretek Kewek Yogyakarta, tak jauh dari Malioboro. Satpol PP Kota Yogyakarta kala itu menilai mural tersebut melanggar Perda Kota Yogyakarta 15 tahun 2018 tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat serta bermuatan provokatif. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI