Gencarkan ‘Peradha’, dr Tri Kusumo Ingin Ubah Stigma Negatif Aids

Editor: Agus Sigit

Konsern dr Tri Kusumo Bawono SE, dokter teladan DIY 2019 memperkenalkan program Peradha (Pelayanan Ramah Orang Dengan HIV AIDS). Belum ada layanan kesehatan setingkat Puskesmas di DIY yang memiliki program sejenis bahkan tak sedikit yang masih terkesan ‘anti’ pada ODHA tersebut. 

Keprihatinan mendalam menginisiasi dr Tri untuk mempelajari banyak hal tentang HIV Aids hingga akhirnya membuatnya memaksimalkan layanan di Puskesmas Gedongtengen Kota Yogyakarta. “Dulu, saya punya sepupu yang HIV karena kecanduan putaw, tidak ada fasilitas kesehatan yang mau merawat. Dari situ saya bertekad belajar untuk memahami betul bagaimana menangani pasien dengan HIV,” ungkapnya mengisahkan. 

Tak berhenti di situ, ia pernah menangani kasus perempuan melahirkan sendiri di kamarnya yang lantas tak bisa ditangani fasilitas kesehatan lain di Kota Yogyakarta karena khawatir menderita HIV lantaran tinggal di kawasan prostitusi. “Ibu-ibu itu tidak ditangani karena khawatir HIV, tenaga kesehatannya tidak mau. Itu membuat hati saya begitu sakit dan akhirnya menginisiasi Peradha,” sambung dokter yang juga aktif di organisasi kepemudaan tersebut. 

Jumlah penderita HIV di DIY sendiri saat ini menurut dia terus mengalami peningkatan. Puskesmas Gedongtengen memiliki data 300-an lebih pasien yang harus menjalani pengobatan rutin. Pada 2013 lalu, bahkan seorang warga penderita HIV diasingkan tetangga saat meninggal dunia. 

Warga disebut mengalami ketakutan HIV akan menular. Pengusung keranda mayatnya pun disebut dr Tri menggunakan masker karena kekhawatiran tertular padahal penderitanya sudah meninggal dunia. 

“Di sini, saya bertekad harus berikan pelayanan secara humanis, karena stigma negatif HIV itu masih sangat besar di masyarakat Indonesia. HIV itu tidak mudah menular kok, bersentuhan tidak apa-apa, lewat ludah pun tidak. Di sini saya berada bersama mereka berusaha menghilangkan stigma negatif ODHA,” tandas dr Tri. 

Berbagai pengalaman menarik juga dialami dr Tri saat menangani kasus-kasus HIV. Ia harus pintar betul melakukan diplomasi terutama pada orang-orang yang telah memiliki keluarga. 

“Tujuan utama juga menyelamatkan keluarga, kadang suami kena HIV pasti minta cerai istrinya apalagi jika tahu karena ‘jajan’. Atau sebaliknya juga demikian. Maka ya saya berperan menjelaskan bagaimana intinya agar rumah tangga tetap utuh,” lanjutnya tertawa. 

Untuk melaksanakan pelayanan, dr Tri bersama tim dari Puskesmas Gedongtengen melakukan penjangkauan ke berbagai tempat seperti lembaga pemasyarakatan, lokasi prostitusi bahkan kantor kepolisian. “Kami lakukan pelayanan mobile, bahkan ke tempat-tempat pijat plus atau karoke plus juga. Bagaimanapun kami harus secara humanis mendekati orang-orang yang lebih rentan,” ungkapnya lagi. 

dr Tri sendiri memiliki misi besar kedepan untuk mengubah stigma masyarakat terhadap ODHA. Ia pun berniat menurunkan misi pengabdian tersebut pada putra putri yang kini juga tengah belajar dunia kedokteran. 

“Saya juga aktif di kepemudaan, berusaha menumbuhkan minat mereka untuk melakukan pengabdian pada masyarakat. Harapan besarnya, stigma masyarakat pada ODHA ini bisa bergeser ke hal positif bukan lagi negatif dan takut,” pungkasnya. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI