Gerakan Proklim Sasar Kota Yogyakarta

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Gerakan Program Kampung Iklim (Proklim) yang digencarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan turut menyasar wilayah Kota Yogya. Setiap kampung di Kota Yogya pun dituntut mampu memiliki kepedulian lingkungan guna menghadapi perubahan iklim yang sudah terjadi.

"Harapan kami, Proklim ini bisa dilakukan hingga tingkat masyarakat paling bawah seperti Rukun Tetangga (RT), bahkan keluarga, tapi setidaknya kelurahan sebagai unsur pemerintah sudah mengawalinya," urai Kepala Sub Direktorat Adaptasi Buatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tri Widayati.

Menurut Tri, pihaknya akan melakukan penilaian sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan program kampung iklim di masyarakat. Evaluasi dilakukan agar program tersebut dapat dilakukan secara berkesinambungan. Apalagi setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga permasalahan lingkungan yang dihadapi juga beragam.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogya Suyana, menilai tujuan utama pembentukan kampung iklim adalah mendorong masyarakat untuk melakukan adaptasi dan mengambil langkah-langkah mitigasi terhadap berbagai dampak perubahan iklim di lingkungan masingmasing.

"Perubahan iklim ini memang sudah terjadi. Bisa dilihat dari musim hujan atau kemarau yang berkepanjangan sehingga menimbulkan dampak lingkungan. Setidaknya, melalui Proklim, kita semua bisa mengantisipasi agar perubahan iklim yang terjadi tidak berjalan cepat," urainya.

Oleh karena itu, pihaknya akan terus mengingatkan masyarakat agar setiap wilayah peduli terhadap lingkungan. Dicontohkan isu 'Jogja Asat' harus disikapi dengan aksi nyata seperti membangun Sumur Peresapan Air Hujan (SPAH), memperbanyak biopori dan juga menanam banyak pohon untuk menjaga kualitas air tanah.

Begitu juga isu mengenai efek gas rumah kaca juga perlu disikapi dengan memulai menghemat energi serta menggunakan penyejuk udara yang ramah lingkungan. "Ada satu lagi masalah yang cukup pelik di Kota Yogya, yakni terkait sampah. Jika TPA di Piyungan sudah tidak mampu mengelola, maka dampaknya akan sangat luar biasa. Satu hari saja TPA tutup, semua depo sampah di Kota Yogya membludak," tandasnya. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI