Gereja Pugeran Rayakan Pesta Nama dengan Rayahan Gunungan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, melaksanakan perayaan pesta nama, Jumat (24/06/2022) malam kemarin. Menarik, selain menggelar ekaristi, gereja yang tahun ini berusia 88 tahun juga melakukan grebeg 12 gunungan hasil bumi yang dibuat oleh umat di tiap wilayah paroki tersebut.

Perayaan ekaristi dihadiri 7 romo dan dipimpin langsung oleh Romo Antonius Dodit Haryono, Pr sebagai Selebran Utama. Perayaan yang dihadiri lebih dari 1.600 umat secara luring dan 1000 lebih melalui kanal Youtube Paroki Pugeran ini berjalan khidmat.

Perayaan diawali dengan iring-iringan gunungan dari tiap lingkungan yang tercakup dalam Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran. Lingkungan yang ikut berkontribusi yaitu terdiri dari 4 Gereja Wilayah yang terdiri dari Wilayah Gereja Brayat Minulyo, Wilayah Gereja Salib Suci Gunung Sempu, Wilayah Gereja Santo Yusup Gunung Sempu dan Wilayah Gereja Santo Martinus Bangunharjo.

Seluruh elemen petugas ekaristi pesta nama Gereja Pugeran pun mengenakan pakaian adat Jawa. Pun demikian, 12 gunungan sebagai wujud syukur atas pesta nama sekaligus bersukacita karena berhasil melewati pandemi dengan segala kesedihan di dalamnya, juga dikawal oleh iring-iringan bregada Kraton Yogyakarta.

“Alasan mengapa konsep Inkulturasi Jawa ini diangkat, karena Paroki Pugeran sendiri, jadi salah satu tempat Umat Katolik Jawa untuk beribadah. Saat masa Kolonial, dahulu sampai hari ini. Kami para panitia sepakat untuk membawa adat Jawa dalam Perayaan
Ekaristi Pesta Nama, pertimbangannya supaya tidak melupakan sejarah panjang perjalanan Gereja Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran,” ungkap panitia pelaksana pesta nama. Petrus Gogor Bangsa dalam rilis tertulis, Sabtu (25/06/2022).

Di sisi lain, hal menarik muncul ketika arak-arakan, terdapat beberapa perempuan yang memakai bermacam-macam pakaian adat tradisional Indonesia. Hal ini menegaskan semangat yang selalu digaungkan Romo Soegijapranata, SJ., bahwa menjadi Katolik berarti harus 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.

Sementara, Romo Antonius Dodit, mengatakan dalam beragama, harus juha berakal sehingga seseorang dapat menyaring dan menelaah agama yang dianutnya dengan baik. Sehingga, pada akhirnya, kemanusiaanlah yang akan menjadi hasil dari keberagamaan.

Perayaan Ekaristi diakhiri dengan Pengarakan Sakramen Mahakudus menuju Kapel Adorasi, dan mengelilingi Gedung Gereja, dilanjutkan rayahan 12 gunungan dan nasi berkah. Umat sangat antusias hingga 12 gunungan dan nasi berkah habis dalam sekejap saja. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI