Gereja Santo Yusup Bintaran Laksanakan Perayaaan Ekaristi dengan Protokol Kesehatan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Rasa bahagia terlihat jelas di wajah Ibu Wulan, kerinduannya untuk mengikuti Misa bersama umat di Bintaran akhirnya bisa terwujud. Beribadah dalam kondisi pandemi Covid-19 ini betul-betul membuatnya merasakan perjumpaan dengan Tuhan.

Itu diungkapkan Ibu Wulan saat bersama putrinya mengikuti perayaan Ekaristi atau Misa di Gereja Santo Yusup Bintaran Yogyakarta yang dilaksanakan untuk pertama kalinya di masa pandemi Covid-19, dengan protokol kesehatan yang ketat, Sabtu dan Minggu (25-26/07/2020). Dia sangat bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengikuti Misa secara langsung di gereja, setelah sebelumnya hanya mengikui live streaming sejak Misa terakhir Maret lalu.

“Tidak perlu takut, sebab pelayanan dan protokol kesehatan yang diterapkan membuat saya merasa aman dan nyaman dalam menjalankan peribadatan. Umat pun terlihat mematuhi aturan sehingga peribadatan berjalan dengan lancar. Satu bangku yang biasanya berisi 8 orang, sekarang hanya 3 saja,” kata umat dari lingkungan Theresia wilayah Margoyasan ini.

Misa pertama kali ini dipimpin oleh Pastor Pembantu Romo Bernardus Himawan Pr, yang bersama Pastor Paroki Romo Stefanus Heruyanto Pr, melayani Umat Paroki St Yusuf Bintaran. Romo Bernard, demikian panggilan akrabnya, juga ditunjuk menjadi Ketua Pelaksana Gugus Tugas Penanganan Dampak Covid-19 Paroki St Yusup. Menurut dia, agar prosesi peribadatan bisa berjalan dengan tertib, aman, sehat, dan lancar, umat yang hadir harus menerapkan adaptasi kebiasaan baru sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Pemkot Yogyakarta. Jumlah umat sekitar 1.610 orang sudah diatur jadwalnya yang dibagi menjadi 5 kelompok, dengan 322 peserta per kelompok.

Romo Bernard menuturkan, umat yang hadir dan para petugas ibadat dibatasi jumlahnya. Umat pun harus mengikuti jadwal perayaan Ekaristi sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan untuk 29 lingkungan dan 9 wilayah di Paroki St Yusup. Yang hadir harus menunjukkan kartu barcode yang sudah dibagikan sebelumnya untuk discan sehingga siapa mengikuti Misa pada jam berapa bisa diketahui by name by address. Hal ini tentu sangat membantu tracing apabila ternyata kelak dibutuhkan.

“Scan barcode ini merupakan terobosan dan kreativitas dalam penerapan protokol kesehatan yang dilakukan oleh satgas. Misa dibagi menjadi 5 sesi sesuai dengan lingkungannya, yakni Sabtu jam 5 sore, Minggu jam 5.30, 7, 8.30 pagi, dan 5 sore,” ujar Romo Bernard.

Keuskupan Agung Semarang (KAS), kata Romo Bernard, melalui Uskup Agung Mgr Dr Robertus Rubiyatmoko telah memutuskan, mulai 18 Juli 2020 perayaan Ekaristi atau Misa di gereja-geraja sudah mulai diperbolehkan dengan prasyarat pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat. Untuk mendapatkan ijin pelaksanaan peribadatan pada Gugus Tugas penanganan Covid-19 dari Pemkot Yogyakarta, Dewan Pastoral Paroki (DPP) St Yusup melalui Satgas Penanganan Dampak Covid-19 sejak awal Juni sudah mempersiapkan berbagai hal terkait kesiapan gereja untuk menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan penularan Covid-19 dalam peribadatan.

“Terutama dalam hal pembekalan petugas ketertiban, dan penyiapan sarana dan prasarana, seperti fasilitas cuci tangan, marka pengaturan jarak, dan ruang transit untuk menghindari bertemunya umat yang baru datang dengan yang akan pulang,” ungkap Romo Bernard.

Wakil Ketua Dewan Paroki St Yusup Hendrikus Matutina menegaskan, penerapan prokotol kesehatan sudah dimulai sejak dari memarkir kendaraan. Peserta harus menaati arahan petugas dan alur keluar masuk yang sudah ditentukan, sejak masuk ke lingkungan gereja, proses peribadatan, hingga pulang. Umat dan petugas akan mengenakan alat pelindung diri seperti masker, face shield, dan membawa lap tangan pribadi.

“Petugas akan mengukur suhu tubuh umat menggunakan thermal scanner. Menscan barcode jadwal kehadiran. Setiap umat diminta mencuci tangan, dan menyemprot tangan dengan hand sanitizer. Selanjutnya petugas mengarahkan umat ke tempat duduk di bangku gereja yang telah ditentukan. Untuk layanan Kolekte, disediakan pilihan secara langsung maupun transfer dengan cara scan barcode nomor rekening Paroki,” jelas Hendrikus.

Selanjutnya, lanjut Hendrikus, durasi peribadatan akan dipercepat sekitar 30-45 menit, sesuai keputusan KAS dengan menghilangkan sejumlah ritus. Setelah ibadat, umat diminta segera pulang ke rumah. Bangku gereja kemudian disemprotkan disinfektan setiap selesai ibadat.

“Gereja St Yusup oleh Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Yogyakarta dijadikan acuan bagi paroki dan gereja lain dalam penerapan protokol kesehatannya. Oleh KAS, setiap jemaat memang dianjurkan untuk beribadat di paroki atau gerejanya masing-masing. Untuk jemaat dari luar paroki, disediakan kuota 15 orang dengan tempat duduk yang terpisah,” tambah Hendrikus.

Sekretaris Dewan Paroki St Yusup FX Danarto Suryo Yudo menjelaskan, Misa pertama kali ini digunakan sebagai uji coba tata cara kebiasaan baru dalam peribadatan agar umat terbiasa dan makin disiplin. Selanjutnya baru akan menambah waktu misa. Jumlah umat yang boleh mengikuti Misa pun terbatas. Hanya yang berusia di atas 10 tahun dan kurang dari 65 tahun, tidak sedang sakit, dan tidak memiliki sakit bawaan.

“Umat yang karena kondisi kesehatannya tidak bisa atau tidak diperkenankan pergi ke gereja tetap dapat dmengikuti misa online atau live streaming di rumah. Layanan komuni door to door oleh petugas lingkungan (prodiakon) juga telah disiapkan. Jika umat di lingkungan yang harus dikirim komuni cukup banyak, maka sejak Jumat sampai Senin komuni bisa dibagikan. Jadi tidak terbatas hanya Sabtu dan Minggu saja,” kata Danarto.

Romo Bernard mengingatkan, Gereja bersama umat harus memiliki kewaspadaan tinggi, tidak boleh lengah apalagi sembrono. Patuhi aturan protokol kesehatan yang ada. Kembangkan sikap disiplin, taat, memperhatikan pola hidup sehat, dan peduli pada kesehatan orang lain. Untuk pelaksanaan Misa di bulan Agustus, masih menunggu situasi dan kondisi tanggap darurat di DIY.

“Hindari kerumunan, terapkan physical distancing, gunakan masker dan face shield, rajin cuci tangan, perhatikan asupan gizi, berolahraga, dan istirahat yang cukup. Jangan sampai gereja menjadi klaster penularan Covid-19 karena keteledoran kita. Menjadi tanggung jawab bersama untuk memutus rantai penularan virus ini, demi kebaikan kita semua,” ujar Romo Bernard. (*)

BERITA REKOMENDASI