GKR Hemas: Tekankan Kembali Pentingnya Pancasila

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Penyebaran paham radikalisme di tanah air semakin mengkhawatirkan. Dari hasil survei yang pernah diungkapkan oleh Menteri Agama RI, bahwa 52% siswa SMA dan SMK mulai terpapar radikalisme. “Saya cukup prihatin dengan kondisi ini,” terang Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dapil DIY, GKR Hemas dihadapan ratusan siswa SMA dan SMK se-DIY dalam acara Sosialisasi Pancasila di Kraton Kilen Yogyakarta, Sabtu (8/2/2020).

Menurut Hemas, paham radikalisme sangat merusak pemikiran generasi muda Indonesia. Ada siswa yang merasa beragama Islam tetapi menolak Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan ada yang suka mengkafir-kafirkan orang lain, yang tidak sekelompok dengannya. Tentu ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri dan hal ini sangat menggelisahkan.

Padahal, kata Hemas, banyak ulama besar di Indonesia tidak pernah bermasalah dengan ide Bhinneka Tunggal Ika ini. Demikian juga dengan Pancasila dan NKRI yang justru merupakan hasil dari pemikiran ulama-ulama besar tersebut. “Perhatian saya kepada siswa, membuat saya harus kembali menekankan pentingnya Pancasila, UUD 1945, konsep NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Hemas.

Dijelaskan Hemas, prinsip Pancasila yang dimiliki bangsa Indonesia sudah sangat bagus, sehingga banyak menarik negara lain untuk ikut mempelajarinya. Seorang peneliti, Professor Katrin Mac Gregor membuat penelitian tentang peran Pancasila di Era Reformasi ini. Sementara Professor Karel Stenbrink dari Belanda melihat secara lebih detail tentang bagaimana Pancasila terkait dengan kehidupan beragama di Indonesia. “Kita di sini boleh berbeda-beda asal orangtuanya, berbeda sukunya, berbeda bahasanya, tetapi tetap satu di dalam Bangsa Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan Hemas, sila pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut Hemas, generasi muda Indonesia perlu dan harus membayangkan bagaimana sila ini bisa tercipta, dan bagaimana sila ini bisa disepakai oleh para Founding Fathers (bapak pendiri bangsa Indonesia). “Para Founding Fathers itu semuanya selalu melepaskan ego masing-masing, melepaskan kepentingan agama dan kelompok untuk bisa mendahulukan kepentingan negara dan bangsa Indonesia,” pungkasnya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI