Gudeg Mbah Lindu, Kuliner Kegemaran Bepe Hingga Wiliam Wongso

Editor: KRjogja/Gus

Sepeninggal Mbah Lindu, anak-anaknya akan tetap berjualan gudeg dengan racikan yang telah diwariskan oleh Mbah Lindu. Gudeg Mbah Lindu sendiri dikenal memiliki cita rasa khas dan disebut salah satu olahan gudeg paling tua di Yogyakarta.

Lahono (60) putra kedua Mbah Lindu mengungkap sang adik yakni Ratiyah akan meneruskan ibunda berjualan di Sosrowijayan. Menurut dia, saat ini semua putra-putri Mbah Lindu meneruskan berjualan gudeg pagi di lokasi yang berbeda-beda.

“Saya sama kakak yang laki-laki sudah berjualan sendiri, racikannya juga meneruskan dari Simbah. Nah yang di Sosrowijayan diteruskan adik saya, Ratiyah. Dia sudah menemani simbah jualan sejak lama, ya ini biar diteruskan dia,” ungkapnya di sela proses penyemayaman almarhumah di rumah duka kawasan Klebengan.

Lahono mengungkap anak cucu sudah berikrar mempertahankan citarasa gudeg Mbah Lindu yang selama ini dikenal orang. Pawon atau dapur kayu di rumah utama Mbah Lindu tetap akan dipakai untuk meracik olahan gudeg sepeninggal simbah yang meninggal di usia kira-kira 102 tahun.

“Racikan simbah tidak ada yang beda, hanya saja tetap memasaknya semua menggunakan kayu yang panasnya terus stabil sepanjang hari. Ya di dapur ini, nanti akan diteruskan memasaknya. Kadang kami juga bergantian masak di sini, karena bagaimanapun cita rasanya akan khas,” imbuh Lahono.

BERITA REKOMENDASI