Gunakan Surat Palsu, Debitur Bank Divonis 5 Tahun

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta menjatuhkan vonis 5 tahun penjara kepada GAW (31) dalam persidangan yang digelar Kamis (20/05/2021). Terdakwa dinilai telah terbukti melakukan tindak pidana menggunakan akta maupun dokumen palsu dalam pengajuan kredit bank untuk membeli tanah dan bangunan. Akibat perbuatan terdakwa pihak bank mengalami kerugian hingga Rp 3 miliar.

Putusan yang dibacakan Ketua Majelis Hakim, Bandung Suhermoyo SH ini lebih ringan 6 bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebelumnya JPU Kliwon Sugiyanto SH dalam tuntutannya meminta majelis hakim untuk memberikan vonis 5 tahun 6 bulan penjara kepada terdakwa.

“Menyatakan terdawa secara sah dan meyakinkan berasalah melakukan tindak pidana menggunakan surat palsu sebagaimana yang dituntutkan penuntut umum. Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama 5 tahun,” tegas Bandung Suhermoyo membacakan amar putusannya.

Hakim menilai terdakwa telah melanggar pasal 263 ayat 2 KUHP tentang menggunakan surat-surat palsu. Hal yang memberatkan terdakwa menurut hakim yakni apa yang dilakukannya menimbulkan kerugain bagi pihak lain dan ia dianggap telah menikmati hasil dari perbuatan itu.

“Terdakwa juga dinilai tidak mengakui perbuatannya dan tidak merasa bersalah. Hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum,” jelasnya.

Dengan putusan ini terdakwa dan kuasa hukumnya memilih pikir-pikir. Demikian pula Kliwon Sugiyanto menyatakan hal yang sama atas vonis tersebut.

Dalam persidangan sebelumnya terungkap terdakwa telah mengajukan permohonan kredit ke bank untuk pembelian tanah dan bangunan ruko di Jalan Dr Wahidin Yogyakarta pada 8 Juni 2018. Saat itu ia mengajukan dua SHGB atas nama Ezekiel dan Geovanni yang merupakan anak dari Magdalena Hartati selaku pemilik ruko yang dibeli terdakwa.

Terdakwa menyerahkan kelengkapan persyaratan pengajuan kredit hingga 16 Juli 2018. Kredit akhirnya disetujui bank dan cair Rp 3 miliar ke rekening terdakwa serta langsung didebet ke rekening Ezekiel dan Geovani.

Belakangan baru diketahui syarat akta, dokumen yang diajukan, Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Izin Gangguan, print out rekening koran bank ternyata semuanya palsu. Selain itu terdakwa juga diketahui tidak melakukan angsuran kredit.

Pengurusan balik nama kedua SHGB menjadi atas nama terdakwa dan pembebanan Hak Tanggungan di Kantor Pertanahan Yogyakarta ternyata juga tidak dapat dilakukan. Hal itu karena adanya pemblokiran yang dilakukan Bambang Sunarta pada 21 September 2018 dengan mendasarkan pada PPJB yang dibuat di hadapan Notaris Eduard Ardyanto. (Van)

BERITA REKOMENDASI