Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas

YOGYA, KRJOGJA.com – Gunung Merapi terus mengalami peningkatan aktivitas. Guguran yang terjadi pada Selasa (29/1) malam pukul 20.17, 20.53 dan 21.14 WIB kemarin bukan guguran lava pijar biasa seperti yang terjadi sebelumnya. Guguran kemarin itu adalah awan panas guguran. Hal tersebut dipastikan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta setelah melakukan analisis visual kejadian dan deposit material guguran.

Menurut Kepala BPPTKG Yogyakarta Dr Hanik Humaida, jejak deposit material awan panas guguran memiliki ciri tersendiri yang sangat berbeda dengan guguran lava pijar. Selain menggunakan data kegempaan (seismisitas), untuk memastikan bahwa itu awan panas guguran adalah melalui pengamatan visual.  Namun demikian awan panas guguran yang terjadi masih tergolong kecil dan tidak membahayakan keselamatan penduduk, sehingga status Gunung Merapi tidak dinaikkan atau masih status Waspada (level II). Pertimbangan lain tidak dinaikkannya status adalah volume suplai magma dari dalam gunung juga relatif masih kecil.

"Awan panas guguran kemarin adalah yang pertama kali terjadi sepanjang erupsi kali ini,” terang Hanik didampingi Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta Dr Agus Budi Santoso kepada wartawan saat memberikan keterangan pers di
Kantor BPPTKG, Jalan Cendana Yogyakarta, Rabu (30/1).

Agus Budi menambahkan, yang membedakan awan panas guguran kemarin dengan guguran lava pijar sebelumnya adalah sifat/karakteristik magmanya serta laju keluarnya magma dari dalam gunung (laju ekstrusi) ditambah lagi adanya faktor gas. 

Menurut Agus Budi, BPPTKG tidak bisa langsung memastikan bahwa guguran kemarin adalah awan panas guguran, hanya berdasarkan data seismik semata. Sehingga dibutuhkan analisis visual jejak deposit untuk memastikannya. "Parameter awan panas saat ini dengan awan panas pada erupsi 2006 berbeda dan tidak bisa disandingkan. Namun setelah teridentifikasi awan panas guguran kemarin, kita sudah punya parameter/benchmark untuk menentukan guguran yang terjadi, apakah guguran lava pijar biasa atau awan panas," katanya.

Hanik menjelaskan, awan panas guguran pertama teramati, Selasa (29/1) pada pukul 20.17 WIB dengan jarak luncur 1.400 m dan durasi 141 detik. Awan panas guguran kedua terjadi pukul 20.53 WIB, jarak luncur 1.350 m dan durasi 135 detik. Sedangkan awan panas guguran ketiga terjadi pukul 21.41 WIB dengan jarak luncur 1.100 m berdurasi 111 detik.  "Semua awan panas guguran menuju hulu Kali Gendol," katanya. 

Akibat kejadian-kejadian awan panas guguran tersebut hujan abu tipis dilaporkan terjadi di sekitar Kota Boyolali, Kecamatan Musuk, Mriyan, Mojosongo, Teras, Cepogo, Simo, Kabupaten Boyolali dan Kecamatan Kemalang serta Kabupaten Klaten. Sehubungan dengan kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur yang masih relatif pendek, maka masyarakat khususnya yang berada di Kawasan Rawan Bencana III diimbau untuk tetap tenang dan beraktivitas
seperti biasa, serta selalu mengikuti informasi aktivitas Merapi. Radius 3 km dari puncak Gunung Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk. (Dev)

BERITA REKOMENDASI