Guru Bahasa Indonesia ke Padhepokan Djagat Djawa

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kesenangan membaca dapat membawa seseorang menekuni dunia tulis menulis bidang sastra sekalipun latar pendidikannya STM (SMK). Memang seorang yang suka membaca belum tentu penulis, tetapi seorang penulis pastilah pembaca yang baik. Salah satunya adalah Triman Laksana sastrawan kelahiran Yogyakarta yang kini mukim di Magelang.

Kesukaan membaca berawal ketika Triman kecil membantu ayahnya yang seorang tukang jilid buku. Kesukaan membaca dan komunitasnya dapat membawanya menjadi satrawan tenar melalui karya-karyanya berupa puisi, geguritan, cerpen dan novel telah diterbitkan di berbagai surat kabar dan terhimpun dalam antologi.

Hal di atas diungkapkan sastrawan dan pemilik Gubug Literasi Kelas Menulis – Diskusi Sastra Budaya Triman Laksana dalam bincang sastra dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia (BI) di Padhepokan Djagat Djawa, Jalan Raya Borobudur Citran Paremono, Mungkid Kabupaten Magelang, Sabtu (08/01/2022). Tujuan lawatan yang disampaikan Aris Daryono yaitu ingin mengenal lebih dekat dengan Triman dan bagaimana proses kreatif yang dibangunnya.

Triman menguraikan latar belakangnya dan menyingkap proses karyanya dengan antusias. Sebagai pengantar untuk membuka pertemuan, MGMP mempersembahkan dramatisasi Novel Menjaring Mata Angin karya Triman Laksana yang diperankan Eko Sunaryo, Retna Rahayu Widawati, Diah Agustin AP, Sarno R Sudibyo, Ngadiri.

Narator Agustina Prapti Rahayu dan Sri Mintarsih Fatimah sebagai sutradaranya. Sedangkan musikalisasi puisi Daun Gugur yang juga karyanya menampilkan Agustina PR, Yustina Evinawati, dan Wiyana. Baik dramatisasi novel maupun musikalisasi puisi diapresiasi Triman dan beliau tampak matanya berkaca-kaca.

“Sebenarnya saya ini orang kesasar, lha latar pendidikan STM Negeri 1 Jetis yang sekarang menjadi SMK 3 Yogyakarta. Waktu kecil di Gondomanan, Sayidan Yogyakarta, saya sering membantu ayah yang tukang jilid buku. Nah, sambil menjilid saya membaca terutama buku fiksi dan jadilah saya suka membaca dan menulis. Selepas STM saya sering berkumpul dengan Suminto A Sayuti, Linus Suryadi AG, dan Ragil Suwarno Pragolopati. Selanjutnya saya juga memperkaya dengan belajar di Akademi Kepengarangan The Liang Gie, Azwar Annas, dan Tuti Nonka, ” ungkap peraih penghargaan Prasidatama 2017 di bidang bahasa dan sastra Jawa.

Kusmarmi menanyakan apa resep jitu dan proses kreatif menjadi penulis yang konsisten dan produktif, Triman pun menjawab dengan sangat terbuka. Pertama, harus mempunyai niat, minat dan tekat yang kuat. Kedua, Amati Tiru Modifikasi (ATM), baca model dan gaya para penulis, jangan mengandalkan imajinasi saja, sangat penting adanya data dan perlunya riset.

Diungkapkannya untuk menulis Novel Menjaring Mata Angin risetnya di Pasar Kembang dan Balokan. Demikian juga untuk puisinya Kepada Senja,Triman harus berhenti di lampu merah selama dua jam.

Sebelum mengakhiri pertemuan, pada kesempatan itu Retna Rahayu Widawati Ketua MGMP memberikan kenangan berupa buku antologi karya siswa SMA 1 Yogyakarta dan Majalah Gumregah dari Sanggar Sastra Jawa Gunungkidul kepada Triman Laksana. (Jay)

BERITA REKOMENDASI