Guru Harus Pahami Karakter Setiap Peserta Didik

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Tahun 2014, DIY telah mendeklarasikan sebagai daerah pendidikan inklusif, yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik (termasuk anak berkebutuhan khusus) mengikuti pendidikan secara bersama dengan peserta didik pada umumnya. Namun masih ada tantangan, seperti masih banyak guru sekolah reguler yang belum memahami konsep pendidikan inklusif dan masih adanya ketakutan sekolah umum jika menerima siswa/anak berkebutuhan khusus (ABK) akan menurunkan kualitas.

Tantangan lain, banyak orangtua yang masih malu mengakui memiliki anak ABK, sehingga harus dipingit serta belum tercukupinya guru-guru khusus ABK di sekolah umum untuk mendampingi belajar siswa ABK. Demikian diungkapkan Kepala Bidang Perencanaan dan Standarisasi Pendidikan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Didik Wardaya dalam Seminar Nasional 'Guru Ramah, Guru Semua Anak' di Ruang Ki Hadjar Dewantara, Kampus Pusat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, Sabtu (24/11/2018). Seminar diselenggarakan oleh Pusat Kajian dan Layanan Inklusi UST.

Menurut Didik, pendidikan inklusif merupakan sebuah gerakan, sehingga perlu keterlibatan semua pihak, birokrat, kepala sekolah, guru, Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK), orangtua dan masyarakat. Untuk mewujudkan pendidikan inklusif, perlu dukungan sarana dan prasarana sekolah, gedung, infrastruktur yang aksesible bagi kaum disabilitas.

"Tak kalah penting penguatan tenaga guru reguler terus ditingkatkan untuk bisa mengembangkan kompetensi pedagogi di berbagai jenis dan karakter siswa (reguler dan ABK)," katanya.

Guru SD Tumbuh I Yogyakarta, Antonius Dimas Wisnugroho mengatakan, semua siswa memiliki hak dan kesempatan yang sama tanpa ada 'pelabelan', seperti mendapat materi yang sama dengan jenis soal berbeda. Adanya kelompok kecil dalam kelas untuk membantu jika ada kesulitas belajar. "Setiap siswa adalah bagian dari kelas, setiap masalah diselesaikan bersama dengan diskusi dan mencari solusi," ujarnya.

Sedangkan Guru Relawan Penggerak Disleksia Keliling Nusantara, Imam Setiawan mengatakan, sebagai guru, mengenali anak adalah hal wajib yang harus dilakukan apalagi dengan ABK. Memahami anak ABK dengan melakukan asesmen yang didalamnya berisi kekuatan, kelemahan, gaya belajar, perilaku dan tingkatan belajar. "Guru harus tahu apa itu ABK, ciri dan karakteristik ABK serta penyebab ABK," tuturnya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI