Hadapi Kurban, Tim Reaksi Cepat Dibentuk

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sebulan jelang Idul Adha 1440 H, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogya mulai bersiap. Salah satunya membentuk tim reaksi cepat guna mengawasi lalu lintas hewan ternak yang akan digunakan untuk berkurban.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogya Sugeng Darmanto, menyebut tim reaksi cepat itu baru akan diterjunkan dua pekan jelang Idul Adha 1440 H. Akan tetapi pembentukan dan persiapannya harus dilakukan sejak saat ini.

"Meski itu merupakan tugas rutin, namun tetap ada pembekalan dan pemantapan. Internal kami sudah siap untuk menyambut Idul Adha tahun ini," jelasnya.

Tim reaksi cepat tersebut seluruhnya merupakan petugas Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogya. Akan tetapi memiliki pola koordinasi dengan berbagai pihak mulai Dinas Pertanian DIY hingga takmir masjid atau panitia penyembelihan hewan kurban. Apalagi kewenangan untuk mengawasi keluar masuk hewan ternak berada di DIY, sehingga ketika ditemukan hewan yang mencurigakan dari luar daerah, bisa secepatnya diberi tindakan.

Sementara koordinasi dengan takmir masjid maupun panitia penyembelihan hewan kurban juga sangat dibutuhkan sebagai bentuk antisipasi terhadap permasalahan kualitas daging. Terutama jika hewan yang disembelih memiliki daging yang kurang bagus.

"Setiap temuan, bisa langsung dilaporkan ke petugas. Nanti akan ada nomor kontak yang dapat dihubungi selama 24 jam. Termasuk ketika ada warga yang membeli hewan namun khawatir tentang kondisi kesehatan hewan itu, bisa kami berikan pemeriksaan gratis," paparnya.

Terkait kekhawatiran penyebaran hewan kurban khususnya sapi yang berpenyakit, menurut Sugeng, tidak ada kebijakan black list daerah asal hewan ternak. Hanya, setiap sapi dari luar daerah memang harus memiliki surat keterangan asal dan harus melalui serangkaian pemeriksaan. Apalagi pemeriksaan kesehatan hewan kurban akan semakin diintensifkan sejak dua pekan sebelum Idul Adha.

Sugeng menyebut, pemeriksaan asal-usul sapi bukan semata mengecek kondisi kesehatan melainkan terkait pangan. Sapi yang memakan sampah maupun plastik jelas tidak boleh untuk disembelih untuk kepentingan konsumsi.

Terlebih jika ditemukan sapi dengan suhu di atas 41 derajat, kotoran bercampur darah serta mata selalu berair, maka patut dicurigai dan harus diberikan tindakan khusus. "Kalau kondisi kesehatan hewan itu karena stres atau kelelahan selama perjalanan, cukup ditangani di penampungan. Masyarakat tidak perlu khawatir," tandasnya. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI