Harga Tanah Jadi Hambatan Pembangunan Rumah Murah

YOGYA (KRjogja.com) – Pengembang properti di DIY yang tergabung Real Estat Indonesia (REI) mengaku tidak sanggup menyedikan rumah bersubsidi sejak tahun 2015 lalu. Hal ini dikarenakan penyediaan rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) terkendala harga lahan yang tinggi, perizinan belum efisien dan harga jualnya dibatasi senilai Rp 116,5 juta per unit.  

Ketua DPD REI DIY,  Nur Andi Wijayanto mengatakan terkait dengan program sejuta rumah dimana 600 ribu unit rumah subsidi dan 400 unit rumah non subsidi menjadi program yang didorong pemerintah pusat untuk bisa didukung oleh sektor swasta di dalam penyediaannya.  Untuk kebutuhan rumah subsidi di DIY yang harus disediakan mengacu pada data backlog.

"Backlog di DIY yang diperkirakan diangka 10.000 unit per tahunnya dengan data backlog nasional mencapai  13,5 juta unit per tahun. Dengan konsep menghuni melalui Perpres Nomor 2 Tahun 2015 RPJM dan 7,6 juta untuk konsep memiliki dari data BPS atau Bappenas per 2014 lalu," ujar Andi kepada KRjogja.com, Jumat (12/8/2016).

Andi mengungkapkan akan tetapi kemampuan supply dari anggota DPD REI DIY untuk rumah subsidi masih cukup rendah. Penyediaan rumah murah/subsidi di DIY belumlah cukup menggembirakan, pihaknya baru bisa mensupply 250 rumah subsidi pada tahun 2012, 450 rumah subsidi pada 2013 dan 600 unit rmh subsidi pada 2014.

"Mulai tahun 2015 lalu, kami bahkan tidak bisa menyediakan kebutuhan rumah subsidi di DIY.  Tahun ini pun nampaknya masih 0 unit rumah subsidi alias belum bisa memenuhi kebutuhan rumah subsidi lagi," tandasnya. (R-4)

BERITA REKOMENDASI