Harga Tiket Pesawat Mahal Rugikan Pariwisata

YOGYA, KRJOGJA.com – Pengusaha biro perjalanan atau travel agent di DIY sangat berharap agar pemerintah segera turun tangan perihal mahalnya harga tiket pesawat hingga pengenaan biaya bagasi karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Mahalnya harga tiket pesawat hingga bagasi yang sudah tidak gratis lagi dinilai sangat merugikan dan tidak wajar bagi seluruh pelaku pariwisata serta melukai dunia pariwisata yang tengah getol-getolnya melakukan promosi pariwisata di DIY.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY Udhi Sudiyanto mengatakan, mahalnya tiket penerbangan domestik, dikenakannya biaya bagasi oleh sejumlah maskapai dan sebagainya sangat mempengaruhi bisnis biro perjalanan. Penumpang angkutan udara di sejumlah bandar udara, termasuk di DIY terlihat lumayan sepi atau mengalami penurunan.

"Ketika kenaikan tiket pesawat terlalu dratis pasti akan mempengaruhi jumlah penumpang. Saya khawatir justru wisatawan yang semula sudah berencana berwisata ke DIY akan mengalihkan ke destinasi lain yang bisa dijangkau dengan angkutan darat,” ujar Udhi di Yogyakarta, Minggu (27/1).

Direktur Antar Anda Tour and Travel ini mengungkapkan, di sisi lain dampak pemberlakukan biaya bagasi pesawat tersebut membuat pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) akan merugi karena wisatawan harus berpikir ongkos bagasi yang dikenakan jika terlalu membawa banyak barang. Sementara di DIY, terkenal dengan wisata belanja khususnya suvenir dari UMKM, sehingga tentunya
akan berimbas kepada penurunan omzet.

"Hal tersebut sangat disayangkan, karena kebijakan yang dilakukan maskapai penerbangan sangat berbanding terbalik dengan kebijakan Pemerintah yang sedang getol-getolnya mempromosikan pariwisata. Lebih anehnya lagi tiket penerbangan domestik justru lebih mahal dibandingkan tiket penerbangan internasional dikarenakan alasan mahalnya harga Avtur sehingga sudah tidak logis lagi,” imbuh Udhi.

Menurut Udhi, Asita DIY justru mempertanyakan kebijakan tersebut tidak memihak pengembangan pariwisata di DIY. Padahal, Indonesia sedang gencargencarnya melakukan promosi pariwisata dengan target mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman), ternyata justru harga tiket penerbangan dinaikkan dan dikenakan biaya bagasi. Wisman pasti menggunakan bagasi, sehingga mau tidak mau harus dibebani biaya bagasi yang cukup mahal.

"Kebijakan tersebut sangat mengejutkan bagi pelaku pariwisata, terutama travel agent. Seharusnya kenaikan ini dilakukan secara bertahap dan dilakukan sosialisasi terlebih dahulu. Yang rugi tidak hanya sektor pariwisata, tetapi semua sektor baik UMKM, kuliner, kargo dan sebagainya,” jelasnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI