Harus Dijaga, Malioboro Kini Semakin Megah

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemda DIY minta supaya Pemkot Yogyakarta menjadi garda terdepan dalam memelihara dan menjaga kebersihan jalur semi pedestrian kawasan Malioboro yang sudah rampung direvitalisasi. Kesadaran masyarakat pun diharapkan terus tumbuh untuk bersama-sama menjaga Malioboro, agar tidak muncul problematika baru.

"Setelah selesai tahapan penataan jalur pedestrian, penataan vegetasi perindang sumbu filosofi hingga lampu antik mulai dari Tugu Pal Putih hingga Jalan Pangurakan kawasan Malioboro tahun ini, kami ingin Pemkot Yogyakarta harus tampil di depan. Kita hanya sebagai pendukung dengan membentuk Sekretariat Bersama (Sekber) Kawasan Keistimewaan, tetapi yang operasional di lapangan leading sectornya tetap Pemkot Yogyakarta," ujar Sekda DIY Gatot Saptadi.

Gatot menekankan upaya menjaga dan merawat kawasan Malioboro pascarevitalisasi jalur pedestrian sisi Barat selesai tahun ini, bisa berkaca pada penataan sisi Timur tahun lalu. Selain Pemkot Yogyakarta yang akan menjadi garda terdepan, masyarakat harus bersama-sama memiliki dan menjaga kawasan Malioboro tanpa harus ada tindakan represif atau berbagai larangan. "Kita harus mengajak masyarakat untuk bersama-sama merawat dan merasa memiliki kawasan Malioboro. Yang terpenting menciptakan suasana yang adhem untuk sama-sama merawat apa yang sudah ditata dan dipercantik ini," imbuhnya. 

Wakil Ketua DPRD DIY Arief Noor Hartanto yang akrab disapa Inung menyatakan, upaya menjadikan Malioboro sebagai kawasan semi pedestrian cukup bagus, tidak hanya dari sisi kenyamanan bagi pengunjung, tapi juga pariwisata. Sayangnya semua itu belum diimbangi kesadaran masyarakat termasuk pengunjung dan wisatawan untuk turut memelihara. Misalnya di sisi Timur yang sudah selesai dibangun, ternyata muncul berbagai problematika baik dari aspek fisik maupun peradaban masyarakat.  

"Problem fisiknya, bangunan sudah ditata dengan baik namun masyarakat belum sadar untuk turut menjaganya. Apabila Malioboro benar-benar akan dijadikan kawasan semi pedestrian, maka wilayah-wilayh yang dipakai orang untuk menikmati keindahan Malioboro, secara fisik harus terus dijaga dan dipelihara dengan baik," tandas Inung. 

Inung mengungkapkan, peradaban juga perlu mendapatkan perhatian serius. Hal itu bisa dilihat dari masih adanya puntung rokok dan plastik bekas minuman serta sampah yang berserakan. Sikap buang sampah sembarangan tidak boleh dibiarkan begitu saja. Begitu pula untuk tempat penyeberangan (zebra cross) yang belum dimanfaatkan dengan baik. 

"Petugas di lapangan idealnya harus bisa mengarahkan dan tegas memberikan teguran. Mengingat semua itu bagian penting dari peradaban. Karena kalau kondisi lingkungan bersih (tidak ada sampah) biasanya orang akan segan untuk membuang sampah sembarangan. Jangan sampai Malioboro megah dari sisi fisik tapi secara peradaban runtuh," tegasnya.

Wakil Ketua DPRD DIY itu menambahkan, apabila Malioboro sudah benar-benar menjadi kawasan semi pedestrian, kendaraan yang lewat sebaiknya ditentukan, termasuk angkutan tradisional. Untuk itu, Perda perlindungan transportasi tradisional harus ditegakkan dan diterapkan sehingga kawasan Malioboro benar-benar nyaman untuk wisatawan. "Malioboro bisa kembali menjadi wahana untuk ekspresi seni dan budaya, tak semata kepentingan ekonomi," pungkas Inung. (Ira/Ria)

BERITA REKOMENDASI