Heboh Tarif ‘Nuthuk’ di Jogja, Sultan: Jangan Berpikir Keuntungan Sesaat

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRjogja.com – Belakangan ini muncul sejumlah keluhan masyarakat di media sosial (medsos) tentang berbagai tarif ‘nuthuk’ di sejumlah destinasi wisata di DIY, yang akhirnya viral dan menjadi perbincangan publik. Masyarakat pun beramai-ramai mengomentari serta menyoroti permasalahan tarif nuthuk

tersebut dengan beragam kontroversinya. Mulai dari harga pecel lele di Jalan Perwakilan (kawasan Malioboro), tarif parkir di sekitar kawasan Titik Nol Kilometer Yogya, hingga wisatawan yang ‘diharuskan’ menyewa kendaraan jika akan berkunjung ke rumah Mbah Maridjan di Kaliadem, Cangkringan, Sleman.

Bahkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pun turut menaruh perhatian serius terhadap permasalahan tersebut, karena menyangkut citra Yogyakarta sebagai kota budaya, kota wisata dan kota pendidikan.
Sultan berharap munculnya kasus video viral yang mengeluhkan harga pecel lele di kawasan Malioboro seperti itu bisa menjadi pembelajaran bagi pedagang di Jalan Perwakilan khususnya, bahwa pariwisata bukan hanya tentang Malioboro tapi juga lingkungan sekitarnya.

“Meski kejadian itu terjadi di Jalan Perwakilan, bukan Jalan Malioboro, saya minta masyarakat khususnya para pedagang dan pelaku usaha di Malioboro dan sekitarnya, untuk mengambil hikmahnya. Bagaimana dengan pengalaman kemarin itu, menjadikan teman-teman pedagang kakilima (PKL) di sana mengkoordinasikan potensi yang ada, jangan hanya bicara Malioboro saja, tapi lingkungan atau kawasan di sekitarnya juga bisa dikomunikasikan,” kata Sultan HB X di Kepatihan, Yogykarta, Senin (31/5).

Sultan menyatakan, kemunculan video viral soal harga pecel lele yang dinilai tidak wajar, perlu dijadikan perhatian semua pihak. Untuk itu Sultan berpesan agar para pedagang tidak hanya memikirkan keuntungan sesaat dengan ‘nuthuk’ atau menaikkan harga. Karena cara seperti itu justru membuat pedagang kehilangan pelanggan.

BERITA REKOMENDASI