HI UGM: Polemik Yerusalem adalah Bukti Kejantanan Trump

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRjogja.com – Kontroversi kembali ditimbulkan Presiden Donald Trump ketika mendeklarasikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Dalam pandangan Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, Kepala Departemen Ilmu Hubungan Internasional (HI) UGM dan pakar Amerika Serikat, kontroversi ini adalah salah satu dari bukti kejantanan dalam berpolitik yang senantiasa diproyeksikan sang Presiden.

“Personal Trump adalah sosok yang highly confidence (penuh percaya diri). Kadang kontroversial, tapi dia memandang itu bukti kekuasaan yang dia miliki. Maka bisa dikaitkan jika lagi-lagi polemik Yerusalem ini di mata Trump adalah wujud kejantanan dia dalam berpolitik (manly politics),” ungkap Rachmat dalam Konferensi Pers di Departemen HI UGM, Kamis (14/12/2017) siang.

Yang dimaksud oleh Rachmat sebagai kejantanan, adalah bagaimana pengambilan keputusan yang diambil Presiden Trump kerap sekedar berbasis kepercayaan diri dan insting kejeniusan yang kerap ia banggakan dalam berbagai kesempatan.

Dan ketika ada penolakan maupun kecaman dari banyak pihak, Trump justru bergeming. Ia bahkan akan semakin kukuh, karena hendak membuktikan kekuasaan yang ia miliki sekaligus bukti bahwa ia berpolitik secara jantan (manly politics). Dimana laki-laki dalam pandangannya, akan selalu menepati apa yang ia janjikan.

“Apalagi ditengah fakta bahwa Presiden Trump sejak kampanye Pemilihan Presiden telah menjanjikan hal tersebut. Sehingga Trump saat ini menepati janjinya kepada masyarakat Amerika serta kelompok lobi Yahudi. Dan akan mempertahankannya sebagai wujud sebuah kejantanan,” ungkap Rachmat.

Walaupun demikian, Rachmat juga menyatakan bahwa kejantanan yang diproyeksikan Presiden Trump tersebut justru menghancurkan pengaruh Amerika Serikat. Alih-alih konstruktif dan mendorong kesepakatan dua negara (two state solution), keputusan ini akan membuat Timur Tengah makin tak terkontrol dan negara Timur Tengah menjadi antipati kepada Amerika Serikat.

“Sehingga banyak pihak mengkhawatirkan bahwa apa yang dilakukan Trump ini akan beyond all repair, menghancur leburkan upaya perdamaian yang selama ini diperjuangkan banyak pihak,”pungkas Rachmat. (MG-21)

BERITA REKOMENDASI