Hii..Sereem, Boneka Kayu itu Bisa Menangis

Editor: KRjogja/Gus

DULU, waktu penulis masih kecil, ada mainan bocah perempuan, yaitu golekan atau boneka kayu. Bentuknya teramat sangat sederhana. Terbuat dari kayu waru atau sengon. Panjangnya sekitar 25 centimeter. Kedua sisi pinggirnya pipih dan agak tebal di tengah. Mata, hidung, dan mulut hanya digambar dengan teres atau nopal. Bagian bawahnya digambar seperti motif batik. Yang menyatakan jika boneka tersebut mengenakan jarik batik.

Bocah perempuan jaman now pasti tidak mengenal boneka kayu seperti itu. Kini tak ada lagi orang yang memproduksi golekan kayu. Di toko-toko sekarang banyak dijual boneka apik dan cantik. Limapuluh tahun yang lalu, di suatu sore Kasilah (bukan nama sebenarnya), sendirian mandi sambil ciblon di tengah aliran kali Winongo. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah benda terapung, mengambang menuju ke tempatnya.

”Horeee!” teriaknya. Ternyata sebuah golekan kayu. Wajahnya terlihat sangat ayu. Lukisan mata, hidung, mulut, dan motif batiknya amat bagus. Ukurannya lebih besar dari boneka kayu pada umumnya. Kurang lebih 50 centimeter panjangnya. Buru-buru golekan kayu itu dia pungut dan dia bawa pulang seusai mandi.

Betapa gembiranya Kasilah mendapat barang mainan tersebut. Tak bosan-bosannya dia gendong kesana-kemari. Ketika tidur, dia taruh golekan kayu tersebut di dalam almari pakaiannya. ”Mbok, kayaknya seperti ada anak kecil menangis”, ujar Kasilah sambil membangunkan Emboknya. Setelah Emboknya bangun, suara tangis anak perempuan itu berhenti. Kasilah dan Emboknya tidur lagi.

Malam berikutnya kejadian serupa terulang kembali. Ketika Kasilah dan Emboknya bangun, suara tangis itu masih terdengar. Meski lirih, namun sangat jelas jika itu suara tangis bocah perempuan sambil bersuara lirih: ”Mbok, aku melu kowe wae. Aku ora krasan neng kene.” Ditelisik kesana-kemari akhirnya ketemu juga sumber suara itu. Ternyata berasal dari dalam almari pakaian Kasilah.

”Ya ampun, Mbok. Ini golekan kayuku kok wajahnya basah. Sepertinya habis menangis,” ujar Kasilah sambil memegangi boneka kayunya. Mbah Jumo (nama samaran), Embah Kakungnya Kasilah tanggap. Faham jika golekan kayu tersebut bukan golekan sembarangan. ”Mungkin, golekan ini milik Nini Kumbi, dhanyange kali Winongo., ujarnya. Keesokan harinya Mbah Jumo melarung boneka kayu itu. Dihanyutkanlah barang temuan tersebut di aliran kali Winongo. ”Semoga kamu menemukan kembali Biyungmu, Nok”. Dan golekan kayu itu pun hanyut terbawa aliran kali Winongo ke arah selatan. (*)

BERITA REKOMENDASI