Hotel di DIY Enggan Dijadikan Shelter Isolasi Mandiri

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Perhotelan baik bintang maupun non bintang yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY belum ada yang mau menerima dijadikan shelter untuk isolasi mandiri pasien Covid-19 bergejala ringan atau Orang Tanpa Gejala (OTG). Untuk itu, perhotelan di DIY tetap bertahan dengan operasional terbatas dan menawarkan strategi promo khusus dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 sesuai ‘Pranatan Anyar Plesir Jogja’.

Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan Badan Pimpinan Pusat (BPP) PHRI telah meminta kesediaan anggota BPD PHRI DIY untuk dijadikan tempat isolasi sebelumnya. Namun, tidak ada hotel bintang dan non bintang yang menawarkan diri menjadi shelter tempat isolasi mandiri tersebut alias mereka masih enggan.

“Jika ada hotel yang menawarkan diri menjadi tempat isolasi maka yang memberikan rekomendasi adalah dari pihak Gugus Tugas Penanganan Covid-19 setempat, bukan dari PHRI. Sebetulnya jika ini bisa diterima teman-teman hotel, maka akan menjadi angin segera bagi pendapatan mereka tetapi ada sisi negatifnya yang dikhawatirkan,” tutur Deddy di Yogyakarta, Selasa (29/09/2020).

Deddy mengungkapkan dampak negatif yang menjadi kekhawatiran apabila hotel tersebut digunakan sebagai tempat isolasi mandiri selesai digunakan, maka timbul citra yang buruk. Hal tersebut menjadi sangat dilematis bagi PHRI sendiri, sehingga harus dipikirkan masak-masak segi positif dan negatifnya.

“Kami masih menerapkan strategi menerapkan harga promo tetapi jangan sampai disalahgunakan untuk kepentingan tidak benar. Selain itu, ada yang menawarkan paket-paket menginap tetapi bukan untuk isolasi mandiri,” ujarnya.

Terkait pemberlakuan Pranantan Anyar Plesiran Jogja, pihaknya sebenarnya telah melaksanakannya sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Bahkan pihak telah menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) protokol kesehatan tersebut dengan ketat dan berharap bisa diterapkan oleh seluruh pelaku pariwisata di DIY, tidak hanya sektor perhotelan semata.

“Jika ini harus diterapkan semuanya tanpa kecuali karena kalau tidak dilaksanakan akan membahayakan image atau citra pariwisata DIY. Kita berharap Pemerintah benar – benar ada teguran atau punishment yang bisa memberikan edukasi agar protokol kesehatan diimplementasikan dengan baik, ” tuturnya.

General Manager Hotel Ruba Grha Yogyakarta ini mengaku ada 168 hotel dan restoran yang sudah beroperasional dari 400-an anggota PHRI DIY. Dari jumlah hotel dan restoran yang sudah beroperasional tersebut, setidaknya 70 persennya telah terverifikasi telah menerapkan SOP protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang dilakukan penilaian oleh Dinas Pariwisata (Dispar) setempat.

“Okupansi perhotelan bintang di DIY yang sebelumnya rata-rata mencapai 60 persen pad Agustus 2020 lalu turun menjadi 30 persen pada September 2020 ini. Sedangkan tingkat hunian hotel non bintang lebih parah lagi rata-rata hanya 5 hingga 10 persen. Sehingga dengan adanya verifikasi dan kemudahan perjalanan wisata maka kita komitmen jangan sampai ada klaster baru Covid-19 dari pariwisata,” terang Deddy. (Ira)

BERITA REKOMENDASI