Ibukota Baru Harus Cerminkan Nilai Identitas Bangsa

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Persoalan pemindahan Ibukota Negara Indonesia yang baru di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur sangat kompleks. Pemindahan ini mendapat banyak tanggapan dari masyarakat luas. Sehingga ibukota negara baru harus bisa memenuhi harapan stakeholders, pemerintah, swasta termasuk seniman dan budayawan. Demikian dikatakan Guru Besar Arsitektur Fakultas Teknik UGM sekaligus Ketua Dewan Juri Sayembara Perencanaan Ibu Kota Negara (IKN) Baru, Prof Ir Wiendu Nuryanti MArch PhD.

Menurut Wiendu, ibukota negara baru tidak saja dipahami sebagai pusat pemerintahan, tapi juga akan menjadi pusat bisnis dan otomatis menjadi pusat-pusat yang lain seperti pariwisata karena disitu ada pergerakan manusia, barang dan jasa. Dengan demikian sayembara perencanaan ibukota negara baru memiliki kerangka acuan yang sangat luas.

“Kerangka acuan rancangan ibukota negara baru ini merupakan saripati atau intisari dari berbagai harapan yang telah disampaikan,” ujarnya.

Baca juga :

Bendung Narkoba Masuk Desa, APBDes Perlu Anggarkan Program P4GN
Durasi Rambu Ditambah, Jalan Letjend Suprapto Mulai Terurai

Dijelaskan Prof Wiendu, ada tiga hal utama yang harus ditampilkan para arsitek saat merancang ibukota negara baru ini dalam sayembara. Yaitu harus mengandung nilai identitas bangsa, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Kemudian ibukota negara baru harus bisa menjamin keberlangsungan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Tak kalah penting harus memenuhi standar internasional yakni modern dan cerdas.

“Peminat sayembara sangat tinggi mencapai 300.000 peserta (arsitek). Hal ini sangat menggembirakan bahwa arsitek punya rasa kebangsaan yang tinggi dalam melahirkan ibukota negara yang baru. Dari jumlah itu kemudian diseleksi dan dipilih 5 peserta dengan nilai tertinggi yang akan memaparkan langsung ide/konsepnya dihadapan Presiden,” ujar Wiendu.

Prof Danisworo menelaah soal geologis dan mitigasi bencana. Menurutnya, wilayah calon ibukota negara yang baru sangat kaya akan bahan tambang terutama batubara. Hal ini memunculkan konsekuensi daerah tersebut akan kesulitan air tanah/air baku.

Selain itu daerah tersebut banyak lahan gambut, sehingga air tanahnya sangat dalam. Meskipun saat ini telah ada teknologi untuk mengatasi hal itu, sehingga dimungkinkan upaya rekayasa, namun tetap membutuhkan dukungan data-data yang valid. (Dev)

BERITA TERKAIT