Ikut SBMPTN, Peserta Berkebutuhan Khusus Dilayani Maksimal

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA,KRjogja.com – Dari 43.824 peserta yang mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Rektor UNY Prof. Sutrisna Wibawa mengungkapkan bahwa 24 diantaranya berkebutuhan khusus (difabel). Untuk itu, Panitia Lokal SBMPTN 46 Yogyakarta menegaskan bahwa panitia senantiasa menyediakan pelayanan yang inklusif dan menyesuaikan kebutuhan masing-masing peserta ujian.

"Peserta difabel ikut ujian mungkin karena ada prodi Sekolah Luar Biasa (SLB) dan fasilitas untuk kaum difabel. Walaupun tidak menutup kemungkinan prodi lain juga, kita sediakan sesuai kebutuhan semua tanpa kecuali," papar Rektor UNY Prof Sutrisna Wibawa, dalam Konferensi Pers SBMPTN Panlok 46 di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY, Selasa (08/05/2018) pagi.

Pembantu Rektor I ISI Yogyakarta, Prof. I Wayan Dana menyatakan bahwa upaya inklusifitas tersebut ditekankan oleh panitia lokal karena peserta disabilitas juga berhak untuk mendapatkan pendidikan tinggi setara dengan peserta lainnya. Sebab menurutnya, fisik tidak mempengaruhi kecerdasan dan kemampuan calon mahasiswa yang bersangkutan.

"Yang terpenting tidak mengganggu proses belajar di kampus," jelas Wayan Dana.

Untuk mewujudkan inklusifitas tersebut, pendampingan diberikan sesuai jenis disabilitas yang dimiliki peserta ujian. Di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNY sendiri, ada 21 peserta ujian yang tergolong difabel. Namun, ada peserta ujian yang membutuhkan pendampingan khusus maupun yang tidak.

Prof Ajat Sudrajat, Dekan FIS UNY, mengungkapkan bahwa mereka yang membutuhkan pendampingan khusus adalah peserta tuna netra, tuna daksa (lumpuh), maupun korban kecelakaan. Masing masing diantara mereka disediakan satu ruang khusus, dan dua pengawas yang bertugas membacakan soal dan melingkari jawaban yang peserta ujian tersebut pilih.

Sedangkan bagi peserta tuna rungu, tetap mengikuti ujian di ruangan umum walaupun dengan tambahan pendampingan. Karena, peserta tuna rungu tetap mampu membaca soal dan melingkari lembar jawabnya sendiri.

"Pada intinya kita care dan berikan pelayanan spesial. Memang difabilitas ada hambatan tertentu, tapi wong pikirannya ga ada hambatan, sehingga kita wajib menyediakan dengan inklusif dan kesempatan yang sama pada peserta difabel," pungkas Lena Satlita, Wakil Dekan II FIS UNY. (mg-21)

BERITA REKOMENDASI