Imbas La Lina, Produktivitas Tembakau Merosot

YOGYA (KRjogja.com) – Petani tembakau di Indonesia mengeluhkan dampak perubahan cuaca La Lina yang memicu terjadinya kemarau basah sehingga mengganggu produktivitas tanaman. Diprediksi hasil panen dan luas tanaman hingga akhir tahun ini mengalami penurunan hingga 50 persen.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno di sela acara Rapimnas APTI di Yogyakarta. Menurutnya, tanaman tembakau membutuhkan cuaca panas agar hasil produkinya melimpah dan seharusnya pada akhir-akhir ini merupakan waktu yang tepat guna menanam bibit tembakau dengan masa panen diprediksi pada Oktober 2016. Namun, yang terjadi sampai saat ini sering terjadi hujan sehingga sangat rentan terhadap pertumbuhan bibit.

"Di Pamekasan sebagai salah satu sentra tembakau di Indonesia masih terjadi hujan. Kondisi ini memicu bibit mati atau hasil panen akan merosot. Kami memprediksi hasil panen tahun ini merosot 50 persen dari 163 ribu ton tahun 2015 menjadi 80-90 ribu ton saja," kata Soeseno didampigi Wasekjen APTI Mudi dan Waketum APTI Samokrah.

Soeseno menjelaskan kondisi ini juga memicu petani enggan menanam tembakau sehingga areal lahan tembakau makin berkurang 50 persen dari tahun 2016 yang mencapai 197 ribu hektare. Karena itu, perlu perhatian dari pemerintah agar petani tidak merugi meliputi kemitraan, alih teknologi hingga jaminan pasar.

(Baca juga  APTI : RUU Pertembakauan Atur Kemitraan dan Substitusi Impor)

"Kami berharap di pertengahan Agustus ini mulai kemarau normal dan ada harapan panen di Oktober. Meski hasil tidak maksimal, namun tembakau harus ditanam lantaran mampu menyerap tenaga kerja sampai di pedesaan," ungkapnya.

Dia menambahkan perlu ada dukungan pemerintah guna ekstensifikasi lahan tembakau dengan melakukan pemetaan ulang sentra tembakau. Pemetaan lahan tersebut merupakan warisan Belanda, padahalada potensi di daerah lain sehingga layak ditanam tembakau. "Di Sulsel, ada 1000 hektare lahan di Soppeng ditanami tembakau. Lalu ada di Janeponto atau Lampung. Ekstensifikasi tidak hanya mendukung realisasi 500 ribu ton tembakau di tahun 2025, namun mengantisipasi dampak dari perubahan cuaca seperti saat ini." (*)

BERITA REKOMENDASI