Implementasi Kartu Prakerja Belum Tepat Sasaran

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Implementasi Kartu Prakerja dinilai belum tepat sasaran. Banyak pelatihan yang tidak sesuai dengan profil penerima bantuan. Padahal, para penerima dana berharap ada pelatihan lebih lanjut sesuai dengan profesinya.

Hal tersebut dirasakan oleh Titis (28), salah satu penerima dana Kartu Prakerja. Titis sendiri sudah diminta untuk mengundurkan diri dari perusahaan auditor tempatnya bekerja akibat dari krisis ekonomi di masa pandemi Covid-19.

Maka, ia pun mencoba untuk mendaftar Kartu Prakerja dan berhasil lolos, berharap bisa mendapat kemampuan lebih sesuai dengan profesinya. Namun ternyata, pelatihan yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai auditor tidak tersedia.

“Pelatihannya kurang bervariasi dan tidak relevan. Misal, saya lihat ada pelatihan cara bersih-bersih yang tepat seharga Rp 800 ribu. Itu yang menyediakan dari Kementerian Tenaga Kerja,” katanya, Rabu (13/05/2020).

Ia menilai, program Kartu Prakerja tidak buruk, tapi tidak tepat jika digunakan pada masa pandemi. Sebab, semua kalangan dan kaum pekerja terkena dampaknya.

Memang, awalnya Kartu Prakerja ditujukan untuk mereka yang baru lulus kuliah atau sekolah dan ingin mencari kerja. Akan tetapi, karena adanya pandemi virus corona, tujuan kartu ini dibuah untuk menjadi bantuan sosial.

Bagi Titis, hal ini menjadi kurang relevan karena kelas peningkatan kemampuan tidak mencakup semua profesi. “Melihat dari pelatihan yang ada, dikira yang kena dampak pandemi itu hanya ojek daring, koki, mitra bersih-bersih, padahal sebetulnya banyak sekali pekerja swasta yang dipaksa mengundurkan diri seperti saya,” paparnya lagi.

Padahal, ia sempat memiliki rencana untuk mengikuti kelas pelatihan akuntansi yang sejalan dengan profesinya. Sayang, program itu tidak tersedia di Kartu Prakerja. Akhirnya, Titis pun memilih untuk mengikuti kelas pelatihan murah, yakni membuat kue.

“Harapannya kan selama di rumah bisa tetap produktif. Saya kira ada pelatihan sesuai dengan bidang saya, ternyata juga enggak ada,” beber Titis.

Menurutnya, Kartu Prakerja justru banyak menyediakan pelatihan non teknis atau yang tidak meningkatkan hard skills.

“Bisa dilihat kog, ada pelatihan lancar wawancara kerja, tips berani berbicara di depan umum. Jadi ilmu teknikal yang relevan itu justru malah diabaikan,” ungkap Titis.

Senada, Bela (21) yang juga menerima Kartu Prakerja berharap kelas yang ada bisa ditambah agar banyak bidang yang dipelajari.

Ia sendiri sempat mengikuti kelas membuat kue dan berniat untuk mengasah kemampuannya membuat variasi kue-kue agar bisa menjadi sumber kehidupan setelah ia dirumahkan. (R-1)

BERITA REKOMENDASI