Indonesia ‘Terpeleset’ dari Demokrasi Pancasila ke Liberal-Kapitalis

YOGYA, KRJOGJA.com – PP Muhammadiyah menggelar diskusi catatan akhir tahun bertema Catatan Kritis Bidang Ekonomi, Sosial, Politik dan Hukum tahun 2019, Senin (30/12/2019). Beberapa pembicara dihadirkan yakni Prof Dr Purwo Santoso, Dr Phil Ridho Al Hamdi, Dr Zaenal Arifin Mochtar dan Dr Akhmad Akbar Soesanto. 

Paparan menarik disampaikan para narasumber seperti saat Prof Purwo menyebut bawasanya saat ini Indonesia sedang terpeleset dalam ideologi liberalis-kapitalis. Ia menyoroti sejak era reformasi hingga saat ini sistem demokrasi Pancasila yang seharusnya dikedepankan. 

Bisnis Startup dengan karakternya yang kapitalis, kampus yang terlalu terpesona dengan Reformasi dan paham kebarat-baratan juga mendapat kritisi dari Purwo. “Ilmuan Indonesia seperti saya ini ikut ambil bagian dalam mengantarkan logika liberalisme ini. Kampus jadi agen, kampus mengajarkan benar berdasar textbook bukan mencari yang ‘pener’. Liberalisasi hadir menghanyutkan kita dan tersirat di balik banjir informasi. Nalar politik, penernya politik sudah hilang usai reformasi. Tak ada empati lagi dalam politik. Kita terlalu sibuk dengan textbook dan lupa dengan bumi Indonesia,” papar Purwo. 

Indonesia disebut Purwo sudah kehilangan tepo sliro dan kebiasaan bermawas diri dalam kehidupan sehari-hari. “Kita terlalu sering mengadu benarnya sendiri tanpa mengedepankan penernya. Kalau tak sesuai dengan apa yang diyakini benar, maka maju ke pengadilan. Mengapa tak selesaikan dengan tepo sliro, mawas diri,” ungkapnya bertanya. 

Namun begitu, Purwo mengajak masyarakat untuk optimis menatap hari depan Indonesia. Kearifan lokal masyarakat ternyata menjadi senjata ampuh menangani politik identitas yang membuat Indonesia semakin carut-marut beberapa waktu terakhir. 

“Kita bersyukur, saya dihantui ketakutan Indonesia terjebak dalam siklus kekerasan pertumpahan darah tiap tiga dekade. 45, 60-an, orde baru dan saat ini lagi tiga dekade. Saya lega hantu tiga dekade itu bisa dikalahkan,” pungkas dia. 

Sementara Ketua Bidang Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas menyebut sejak 2004-2019 atau era presiden SBY dan Jokowi, Indonesia mengalami pergeseran ideologi menjadi demokrasi liberal dalam segi politik dan ekonomi. Bagaimana elit politik melakukan pengawetan kekuasaan hingga sulitnya masyarakat umum mencapai posisi eksekutif menjadi sorotan Busyro. 

“Dampak ikutannya, di mana privat sektor masuk ke dalam state atau pemerintahan. Ini dominan, ada oligarki politik dan bisnis. Namun begitu perlu ada optimisme kita semua dan melalui diskusi ini harapannya ada solusi yang didapatkan untuk Indonesia kedepan,” ungkap Busyro. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI