Indonesia Tulangpunggung Pariwisata ASEAN

Editor: Ivan Aditya

YOGYA (KRjogja.com) – Warisan budaya (heritage) baik itu yang berwujud (tengible) maupun tak berwujud (intengible) yang dimiliki negara-negara ASEAN, punya banyak kemiripan, seperti candi-candi, masakan dan pakaian. Warisan budaya itu menjadi bukti negara-negara di kawasan Asia Tenggara adalah satu rumpun (keturunan).

Staf Ahli Bidang Multikultur Kementerian Pariwisata RI, Harry Untoro Drajat mengatakan, adanya hubungan peradaban tersebut, bisa menjadi daya tarik pariwisata. Menurutnya, banyak yang belum tahu, Raja Jayawarman II yang membangun Candi Angkor Wat di Kamboja adalah keturunan Dinasti Sailendra yang membangun Candi Borobudur. Selain itu, peradaban yang berkembang di ASEAN tak bisa lepas dari pernyebaran ajaran agama Budha dan Hindu.

Berdasarkan fakta ini, muncul keinginan membuat paket perjalanan wisata melibatkan negera-negara yang memiliki kesamaan peradaban. "Saat ini sedang dibahas paket wisata 'Trail of Civilization' atau jejak peradaban," terang Harry disela Seminar on Model ASEAN Cultural and Heritage Tourism Travel Pattern 'Product Development and Marketing' di Hotel Harper, Jalan Margo Utomo Yogyakarta, Sabtu (03/09/2016).

Menurut Harry, 60 persen wisatawan dunia memilih mengunjungi objek wisata berbasis kultur. Sisanya 30 persen memilih wisata alam (nature) dan 10 persen adalah wisata buatan (man made). "Dengan memiliki banyak destinasi berbasis kultur, Indonesia bisa menjadi tulang punggung pariwisata ASEAN," katanya.

Irina, konsultan pariwisata dari Malaysia menambahkan, selain memiliki peninggalan sejarah yang mirip, negara-negara di ASEAN juga memiliki kuliner dan pakaian yang tak jauh beda. Misalnya 'sarung' yang dipakai masyarakat di Indonesia, Malaysia maupun Myanmar, meski penyebutannya berbeda. Ada juga menu makanan soup ikan yang selalu ada di negera-negara ASEAN. Di Indonesia soup ikan disebut Laksa, sedangkan di Myanmar disebut Mohinga.

Belum lagi tari-tarian yang punya kemiripan seperti tari Ramayana, yang juga ada di setiap negara-negara ASEAN. "Paket wisata ini bisa menjadikan ASEAN satu komunitas dan satu identitas," katanya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI