Industri Pariwisata DIY Harus Bertransformasi Digital

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Industri pariwisata di DIY harus diarahkan dan responsif terhadap perubahan zaman menuju digitalisasi atau era tourism 4.0. Oleh karena itu, industri pariwisata DIY harus beradaptasi menuju era tourism 4.0 dengan memanfaatkan teknologi informasi digital melalui berbagai aplikasi antara lain pendataan, reservasi, transaksi pembayaran dan lain-lain.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan menyampaikan perekonomian DIY tidak bisa terlepas dari aspek budaya, pendidikan, dan pariwisata sesuai Visi DIY 2025. Industri pariwisata DIY sangat berkontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 56,5 persen dengan perincian pariwisata langsung sebesar 10,4 persen dan pendukung pariwisata sebesar 46,1 persen.

“Pariwisata langsung berupa sektor akomodasi makan minum dan pendukung pariwisata berupa sektor perdagangan besar, industri pengolahan, transportasi pergudangan serta informasi komunikasi dan konstruksi sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Kebutuhan dari konsumen menjadi dorongan dalam digitalisasi industri pariwisata, terutama di DIY,” ujar Hilman di Yogyakarta, Rabu (30/9).

Hilman menjelaskan data dan analisis menjadi kunci utama transformasi digital sebab data penunjang pariwisata di DIY cenderung minim dengan lag waktu yang lama. Data kunjungan hotel di DIY lag 2 bulan, tidak ada data moda transportasi pengunjung pariwisata di DIY dan tidak ada data wisatawan nusantara (wisnus) berasal dari daerah mana.

“Digitalisasi proses bisnis pariwisata DIY perlu dilakukan, agar arah pengembangan pariwisata DIY dapat berbasis data yang real time dan akurat. Setidaknya DIY sudah memiliki aplikasi Visiting Jogja dan aplikasi Hotel yang terus digulirkan,” tandasnya.

BERITA REKOMENDASI