Industri Tekstil Terancam Kalah Bersaing

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Posisi impor yang cukup besar, membuat industri tekstil terpuruk dan tidak bisa bersaing. Kalau hal ini terbiarkan berlarut, akan sangat bahaya bagi masa depan. Selain akan semakin tergantung impor, hampir setengah produk tekstil yang ada di pasaran merupakan produk impor.

"Realita ini bisa diperparah dengan tidak terpenuhinya tenaga ahli tekstil serta makin banyak tenaga kerja dari China dan India yang masuk," tandas Ketua Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (Ikatsi) Suharno Rusdi PhD di FTI UII.

Suharno terpilih sebagai ketua Umum 2019- 2022 hasil Mukernas di Yogya, pekan lalu. Disebutkan, sekarang tenaga asing di bidang tekstil juga hampir 40%. Bahkan tenaga ini disinyalir selalu naik setiap tahun antara 10% -15% pertahun.

Bahkan di level atas seperti marketing, manajer hampir semua asing. Untuk itulah organisasi Ikatsi yang selama ini 'tidur' harus segera bergerak cepat.

"Keberadaan Ikatsi sebagai ahli juga akan berperan lebih kuat. Karena itu, tenaga kerja asing yang nanti mau masuk Indonesia harus melalui filter Ikatsi. Kalau tidak profesional, tidak akan diizinkan masuk. Untuk itu akan ada sertifikasi yang kami membentuk tim untuk melakukan uji kompetensi," jelas Suharno.

Sebagai ketua umum, Suharno dan kepengurusan baru berkewajiban menyosialisasikan hasil Mukernas untuk mengantisipasi kondisi lebih buruk terjadi pada industri tekstil Indonesia. Di antaranya segera membuat roadmap sistem pengembangan industri tekstil nasional dari hulu ke hilir. Industri tekstil tersebut adalah yang berbasis kompetisi lokal, yang berkelanjutan, berwawasan hijau.

"Dengan ada tol, Jawa Tengah harus siap-siap menerima limpahan industri tekstil Jakarta," ungkapnya. Ikatsi juga melihat Indonesia perlu ada Undang-undang Ketahanan Sandang. Undang-undang ini kelak mengatur tidak hanya impor tekstil, produk tekstil dan sejenisnya, namun juga mengatur impor pakaian bekas. "Selama ini tidak ada aturan jelas sehingga pakaian bekas diimpor," tandas Suharno. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI