Inflasi DIY Masih Sesuai Target

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Perkembangan inflasi DIY masih sesuai dengan target. Laju inflasi bulanan tercatat 0,10 persen (mtm) pada April 2018 dengan laju inflasi bulan kalender DIY sebesar 0,76 persen (ytd) dan laju inflasi tahunan mencapai 3,11 persen (yoy). Pencapaian tersebut sama dibandingkan dengan pencapaian nasional sebesar 0,10 persen (mtm). Terjaganya stabilitas inflasi pada periode laporan dipengaruhi penurunan harga komoditas pangan pascapanen.

“Komponen volatile food mengalami deflasi -0,58 persen (mtm), setelah sebelumnya mengalami inflasi 0,07 persen (mtm). Deflasi komponen volatile food bersumber dari mayoritas bahan makanan utamanya komoditas beras, bawang putih, cabai rawit, dan cabai merah,” kata Deputi Direktur Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Sri Fitriani atau Fifin.

Dijelaskan, penurunan harga pada komoditas tersebut dipicu jumlah pasokan yang mencukupi pascapanen pada Maret 2018. Selain itu produksi beras juga masih meningkat, setelah beberapa daerah di Sleman masih panen sepanjang April 2018.

“Tekanan harga masih terjadi pada komoditas bawang merah dan telur ayam ras. Jumlah pasokan yang cenderung terbatas menyebabkan harga kedua komoditas tersebut cenderung meningkat sepanjang April 2018,” tambahnya.

Dipaparkan Fifin, komponen inflasi inti masih dalam batas wajar yang tercatat 0,12 persen (mtm), sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya 0,07 persen (mtm). Peningkatan inflasi inti terjadi disebabkan kenaikan biaya tukang bukan mandor. Umumnya peningkatan biaya tukang terjadi akibat siklus tingginya permintaan terhadap jasa tukang sebelum memasuki bulan puasa.

Sementara itu peningkatan harga solar cenderung mempengaruhi biaya angkut untuk komoditas bahan bangunan, seperti pasir dan kayu balok. Namun demikian peningkatan harga tersebut cenderung terbatas seiring dengan peningkatan harga solar yang relatif rendah. Inflasi pada komponen administered price mengalami peningkatan 0,66 persen (mtm), lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 0,29 persen (mtm).

“Peningkatan inflasi kelompok administered price didorong peningkatan tarif angkutan udara dan harga bensin. Tarif angkutan udara mengalami peningkatan sebagai dampak arus balik libur long weekend Imlek di awal April 2018. Adapun harga BBM utamanya jenis pertalite dan solar mengalami kenaikan Rp 200 perliter masing-masing menjadi sebesar Rp 7.800 dan Rp 7.700 sejak 24 Maret 2018,” terang Fifin. (Ira)

BERITA REKOMENDASI