Ini Dia, Makna dan Legenda Perayaan Tiong Chiu

YOGYA, KRJOGJA.com – Jogja Chinese Art and Culture Centre kembali mengadakan perayaan Tiong Chiu (Zhong Qiu Jie) di kelenteng Tjen Ling Kiong (kelenteng Poncowinatan) pada Senin (24/9/2018) dengan tema mengangkat 'Kebersamaan dalam Keberagaman'.
 
Tiong Chiu Chue 中秋節 (Zhong Qiu Jie) atau yang disebut juga Mid Autumn Festival atau Moon Cake Festival adalah salah satu perayaan yang di tunggu-tunggu masyarakat Tiongkok dan warga Tionghoa di berbagai negara. Tiong Chiu Chue dirayakan setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek. Hari raya ini jatuh pada pertengahan musim gugur, maka disebut sebagai Hari Raya Pertengahan Musim Gugur (Tiong : tengah, Chiu : musim gugur, Chue : hari raya/perayaan).

Demikian rilis resmi Panitia Tiong Chiu 2018. Sebaaimana ditulis pada Hari Raya Tiong Chiu, biasanya orang Tiongkok menaruh meja sembahyang di halaman terbuka, dengan disediakan Tiong Chiu Pia 中秋餅(kue bulan), delima, kurma dan kuaci di atasnya. Setelah bersembahyang kepada bulan, anggota sekeluarga duduk berkeliling di meja, makan sambil ngobrol, bersama-sama menikmati pemandangan bulan purnama. 

"Memakan Tiong Chiu Pia pada hari raya tersebut adalah adat-istiadat bangsa Tionghoa. Kue bulan yang berbentuk bulat melambangkan reuni dan keutuhan keluarga," tulis pers resmi itu.

Perayaan Tiong Chiu 2018 ini diharapkan bisa menjadi salah satu rujukan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya untuk tidak hanya sekedar berwisata menonton pertunjukan namun juga mengenal dan belajar seni dan budaya tradisional Tionghoa di Yogyakarta. Dengan adanya kebersamaan dalam keberagaman ini menjadi bukti bahwa masyarakat Yogyakarta cinta damai dan pembauran.

Legenda Tiong Chiu

Terdapat beberapa kisah legenda yang menjadi latar belakang perayaan ini, tetapi 'Chang E terbang ke bulan' adalah cerita yang paling popular dikaitkan dengan Tiong Chiu Chue. Salah satu versi tentang Kisah Hou Yi dan Chang E (Chang E terbang ke bulan) menceritakan kepahlawanan Hou Yi yang memanah sembilan matahari dan kemudian menikah dengan Chang E. 

Sayang sekali akibat perbuatan jahat seorang pengikut Hou Yi bernama Peng Meng, akhirnya Hou Yi terpaksa harus berpisah dengan Chang E yang menjadi Dewi Bulan.
Hou Yi merasa putus asa, tapi tetap sangat merindukan istrinya. Dia menaruh meja di halaman belakang rumahnya, menyediakan banyak manisan, dan buah-buahan yang disukai Chang E, dia bersembahyang ke bulan, tempat Chang E tinggal. 

Rakyat sesudah mengetahui Chang E menjadi Dewi di bulan, maka beramai-ramai menyediakan meja dengan sesajen untuk bersembahyang ke Chang E. Mulai saat itu, adat-istiadat sembahyang bulan popular di Tiongkok. (*)

BERITA REKOMENDASI