Ini, Penyebab Orang Malas Pelajari Pancasila

YOGYA, KRJOGJA.com – Belakangan di wilayah DIY muncul berbagai permasalahan masyarakat yang dinilai bertentangan dengan ideologi Pancasila. Intoleransi dan kekerasan menjadi dua hal utama yang kerap menjadi tajuk perdebatan masyarakat baik secara tatap muka maupun melalui media sosial. 

Salah satu penyebabnya ternyata karena masyarakat tak lagi tertarik menyelami nilai-nilai Pancasila yang dianggap ketinggalan jaman. Metode lawas dan membosankan menjadi penyebab mengapa masyarakat seolah meninggalkan ideologi Pancasila. 

Hal itu disampaikan Surono MA dari Pusat Studi Pancasila UGM, dalam agenda launching program Ayo Sinau Pancasila di DPRD DIY Rabu (7/2/2018). Surono mengungkap selama ini diskusi Pancasila hanya dilakukan satu arah dengan terlalu banyak membahas teori saja. 

“Masyarakat malas kalau masih metodenya jadul, satu arah saja. Padahal, menarik atau tidaknya itu ya karena metodenya,” ungkap Surono. 

Surono mengatakan kondisi tersebut tak bisa dibiarkan begitu saja. Terlebih saat ini gempuran ideologi asing begitu kentara dalam segi kehidupan bangsa Indonesia. 

“Kita minum saja, pakai air mineral dalam kemasan merk asing, ini proxy war. Ada ideologi asing yang masuk setiap sisi hidup kita. Belum lagi belakangan ini muncul fenomena aku Pancasila kamu bukan Pancasila, ini akan semakin menghancurkan ideologi bangsa ini bila tak segera dikuatkan,” sambungnya. 

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto mengatakan program Ayo Sinau Pancasila tahun 2018 yang dibiayai APBD senilai Rp 1,4 miliar ini sengaja dibuat berbeda dari periode sebelumnya. Metode pelatihan menurut politisi PDI Perjuangan ini akan dibuat dua arah dengan model studi kasus di masyarakat. 

“Tahun ini akan ada 78 kecamatan yang akan mengikuti agenda Ayo Sinau Pancasila selain SMK dan SMA pads Oktober 2018 mendatang. Langkah pertama akan dilaksanakan di Cangkringan Sleman Kamis (8/2/2018) besok. Metode belajar akan dilaksanakan dua arah di mana ada materi dari Kesbangpol dan masyarakat bisa menyampaikan permasalahan di lapangan untuk kemudian dicari solusinya bersama,” terang Eko. 

Program Ayo Sinau Pancasila sendiri diharapkan bisa menjadi pembuka jalan terang pengurai problematika sosial ekonomi di DIY. “Kalau mau ditarik akar masalah intoleransi dan kekerasan misalnya, ya karena ekonomi. Angka kemiskinan DIY masih tinggi 13 persen dengan rasio gini 0,44 persen,” pungkas Eko. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI