Inovasi Gudeg Yu Djum Sasar Pasar Milenial

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Gudeg Yu Djum sudah eksis sejak 1951 dan begitu terkenal di kalangan masyarakat baik di Yogyakarta, Indonesia bahkan luar negeri. Menu andalan gudeg kering dengan dominasi rasa manis sukses menjadi trademark makanan khas Yogyakarta, yang mana Yu Djum jadi salah satu penegas.

Namun, bagaimana Yu Djum bertahan di tengah gempuran makanan-makanan baru dan persaingan di antara banyaknya penjual gudeg lainnya di Yogyakarta. Manager Operasional Gudeg Yu Djum, Citra Anindyto mengungkap inovasi yang dilakukan agar gudeg yang sudah jadi perusahaan keluarga tersebut tetap eksis.

“Gudeg itu makanan yang butuh waktu dan effort besar untuk memasak karena semua harus satu per satu tak bisa dicampur begitu saja. Selain itu juga makanan ini hanya tahan 24 jam saja maksimal, kecuali masuk kulkas dan dipanaskan lagi. Ini yang jadi ciri khas dan Yu Djum selalu memastikan kualitas bahan yang digunakan baik itu nangka muda, ayam, telur, tahu dan juga kreceknya,” ungkap Citra saat bertemu media di acara ngobrol bareng UKM Paxel, Kamis (20/02/2020).

Selain itu, untuk menjangkau kalangan milenial bahkan segmentasi konsumen di luar Yogyakarta, Yu Djum juga melebarkan sayap ke arah yang lebih modern. Packaging yang semakin apik termasuk inovasi membuat gudeg kaleng yang bisa bertahan hingga 1 tahun dilakukan agar distribusi makanan khas Yogyakarta ini bisa semakin masif.

“Kami juga gabung dengan aplikasi Paxel, yakni pengantaran same day yang bisa menjangkau ke-12 kota. Ini menarik karena gudeg bisa sampai sebelum satu hari, jadi tinggal dipanaskan dan disantap konsumen di kota-kota lain di luar DIY ini. Kemasannya juga sudah kami buat sangat menarik dan aman tentu saja,” imbuhnya.

Satu hal lain yang menarik adalah kini Yu Djum tak segan meniru menu masakan yang juga booming yakni ‘mercon’. Mercon merupakan olahan tetelan daging sapi yang dimasak pedas untuk dipadukan dengan gudeg manis.

Dalam satu hari saat ini dengan banyaknya cabang di DIY, Gudeg Yu Djum bisa mengolah lebih dari 100 kilogram nangka muda (gori). Sementara, gudeg Bagong yang jadi merk Yu Djum dalam kaleng mampu menjual lebih dari 8.000 kaleng dalam satu bulan ke berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Sementara melalui Paxel saja, dalam satu minggu Gudeg Yu Djum bisa menjual 250 paket ke beberapa kota besar Indonesia. “Mayoritas pemesannya dari Jabodetabek, Semarang dan Bandung. Kami berharap kesuksesan Yu Djum ini bisa menginspirasi UKM di Yogyakarta khususnya untuk melebarkan sayap penjualan ke daerah-daerah lain di Indonesia,” tandas Zaldy Ilham Chief Operatong Officer Paxel. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI