Inovasi Wirausaha Muda Belum Muncul

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Inovasi kewirausahaan anak muda sampai sekarang belum muncul. Padahal anak muda sebenarnya memiliki waktu dan tenaga yang longgar. Anak muda kebanyakan hanya sebagai pengguna/komsumen, seharusnya dalam era digital jadi produsen konten yang kreatif dan inovatif.

Demikian diungkapkan Drs Hendro Setyono SE MSc, Kepala Bidang Kewirausahaan dan Inkubasi Bisnis Universitas Ahmad Dahlan (UAD) saat Webinar Kewirausahaan secara daring, Rabu (31/03/2021). Webinar bertema ‘Muda Berdaya di Era Digital’ juga menghadirkan pembicara Rifiatun Akfini (SME Development Specialist – Shopee) dengan host Ahmad Rizal Solihudin SMB MBA (dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis /FEB) UAD. Webinar Kewirausahaan dibuka Dr Salamatun Asakdiyah MSi selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UAD dengan keynote speaker Dr Riduwan SE MAg (Kepala Biro Urusan Bisnis dan Investasi/KUBI UAD).

Menurut Hendro Setyono, kenapa anak muda belum juga memunculkan inovasi dan kreasinya? Setahu Hendro Setyono karena cara pandang, daya pikir dan pola pikir belum sampai pada tataran produsen, masih sebatas konsumen atau pemakai. “Padahal inovasi itu tidak semuanya harus baru 100 persen, diubah 1 persen saja sudah inovasi,” kata dosen FEB-UAD.

Ketika ditanyakan dalam konteks KUBI, Hendro Setyono berpandangan, tugas KUBI-UAD tanggungjawabnya mengembangkan kewirauaahaan tingkat mahasiswa. Caranya kerja sama dengan pihak lain, supaya mahasiswa tetap gerak dalam wirausaha.

Sedangkan Dekan FEB-UAD saat membuka antara lain mengatakan, anak muda harus berdaya di era digital. “Caranya harus dikembangkan kreativitas dan potensinya untuk bisnis,” katanya.

Mahasiswa menjadi faktor penting dalam era digital. Setidaknya dengan kemampuan ilmu, penguasaan teknologi mempernudah pengembangan bisnis. Salamatun mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, anak muda Indonesia yang berwirausaha baru sekitar 4 persen. “Anak muda berwirausaha masih kurang,” katanya.

Padahal anak muda yang berwirausaha di Thailand 5 persen, Malaysia 6 persen, Singapura 7 persen. Anak muda Indonesia masih harus dipacu untuk berwirausaha tentu saja dengan teknologi, tidak manual lagi. Sementara Dr Riduwan SE MAg lebih banyak menyoroti, aktivitas berniaga dan berdagang sebenarnya banyak disinggung dalam Alquran.

“Aktivitas berniaga sebenarnya implementasi beribadah dalam konteks yang luas. Berniaga secara jujur, amanah, keterbukaan, etos kerja tinggi berarti mengamalkan nilai-nilai beragama. Tegasnya, berniaga dan berbisnis bagian dari beribadah,” katanya. (Jay)

BERITA REKOMENDASI