Inspiratif! Dosen UST Inisiasi Bengkel Untuk Para Difabel

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRJOGJA.com – Tim dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarya melakukan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan menginisiasi sebuah Gerakan Bengkel ‘Ramis’ kependekan dari Ramah Difabel, Aman, Mandiri, Intelligent dan Sehat. Tim dosen memberikan pendampingan kepada sebuah bengkel difabel di Dusun Pulorejo, Mlese Gantiwarno Klaten Jawa Tengah, bernama ‘UMKM Bangkit’ agar lebih maju dan mampu bersaing.

Tim diketuai Dianna Ratnawati MPd dengan anggota Sigit Purnomo MPd dari Prodi Pendidikan Vokasional Teknik Mesin berkolaborasi dengan Bernadetta Diansepti Maharani SE MM dari Prodi Manajemen. Program PKM ini terselenggara sebagai realisasi program hibah dari DRPM Dikti, Kemendikbud 2021.

Menurut Dianna, UMKM Bangkit merupakan satu-satunya bengkel difabel yang bergerak dibidang jasa modifikasi sepeda motor difabel, jasa pengelasan dan jasa perbaikan kursi roda di Dusun Pulorejo. Usaha bengkel ini menemui beberapa permasalahan, seperti sistem manajemen bengkel yang belum tertata, proses produksi masih membutuhkan keterlibatan bengkel lain dan kendala keterbatasan media pemasaran produk.

Tim hadir menawarkan solusi melalui program pengabdian, antara lain kegiatan standarisasi bengkel difabel yang telah dilaksanakan pada Mei 2021, pelatihan service sepeda motor roda tiga bagi para pekerja (penyandang disabilitas) pada 14-15 Agustus 2021 diikuti 20 peserta dan peluncuran web e-commerce bengkel RAMIS pada 16 Agustus 2021. Web dapat diakses pada laman www.bengkelramis.com. Semua kegiatan dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Setelah diadakan pendampingan dan pelatihan, 100% bengkel ber-SOP bengkel difabel, 95% peralatan bengkel lengkap, 85% peserta terampil men-service sepeda motor roda tiga dan 100% web e-commerce bengkel Ramis dapat dioperasikan,” terang Dianna kepada KRJOGJA.com, Kamis (16/9/2021).

Menurut Dianna, untuk dapat terus mengasah keterampilan service bagi penyandang disabilitas maka perlu pendampingan secara berkelanjutan oleh sivitas akademika atau praktisi. Selain itu kesejahteraan dan kemandirian penyandang disabilitas perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah setempat. (Dev)

 

BERITA REKOMENDASI