Jalanan Macet, Pendapatan Transjogja ‘Seret’

YOGYA, KRJOGJA.com – Transportasi massa andalan Yogyakarta, Transjogja memang terus berusaha memperbaiki layanan agar tetap mendapatkan tempat di hati para penumpangnya. Namun, siapa sangka di tahun 2017 ini, pendapatan kendaraan plat kuning Pemda DIY tersebut mengalami penurunan hingga Rp 3 miliar. 

Kepala UPT Transjogja, Sumariyoto kepada wartawan Rabu (6/12/2017) mengatakan hingga bulan November 2017 ini pihaknya baru mencatat penghasilan Rp 17 miliar. Angka tersebut cukup berkurang jauh dibandingkan tahun 2017 lalu yang mencapai Rp 21 miliar hingga akhir tahun. 

"Paling bulan Desember ini maksimal kami bisa tambah Rp 1,5 miliar, jadi mungkin maksimal Rp 18 miliar. Tetap ada penurunan pendapatan dibandingkan dengan tahun  2016 lalu sekitar Rp 3 miliar,” ungkapnya. 

Sumaryoto menyebut penyebab penurunan pendapatan terjadi karena semakin banyak penumpang beralih pada moda transportasi online setelah merasa tidak mendapat ketepatan waktu tempuh saat menggunakan Transjogja. Faktor kemacetan jalanan Yogyakarta menjadi penyebab utama yang menurut dia melandasi alasan-alasan beralihnya para penumpang. 

"Masyarakat mengeluh Transjogja tak bisa memenuhi ketepatan waktu sampai tujuan karena jalanan macet. Masyarakat pun akhirnya mencari alternatif lain dan peluang ini ternyata ditangkap penyedia jasa daring (online). Kalau kita lihat jam pulang sekolah dan pulang kerja sudah berubah jadi hijau-hijau (online) semua," ungkapnya. 

Meski demikian, pihak UPT Transjogja tetap melihat adanya potensi penumpang terutama saat long weekend atau hari libur panjang seperti yang sebentar lagi dihadapi yakni libur akhir tahun. 

"Tapi permasalahannya tetap kemacetan, di hampir semua koridor baik itu timur, barat, selatan dan utara permasalahannya adalah macet yang kemudian membuat waktu tempuh tak bisa tepat waktu,” sambungnya. 

UPT Transjogja bersama instansi terkait kini tengah berupaya mencari jalan keluar agar waktu tempuh bisa paling tidak tepat waktu sehingga para penumpang tetap tertarik menggunakan moda transportasi massa tersebut.  "Kalau jalur khusus rasanya tidak mungkin karena badan jalan kita tidak lebar, paling tidak di simpang bisa dilakukan rekayasa dan tahun 2018 kita lakukan kajian bersama,” pungkas Sumaryoto. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI