Jamu Tradisional Masih Digemari Masyarakat

Editor: Ivan Aditya

ENTAH gelas ke berapa yang mbok jamu bagikan. Siang itu senyum selalu merekah di wajah mbok jamu ketika melayani penikmat jamu. Sejak sekitar pukul 14.30 sampai sekitar pukul 17.00 tidak hentinya orang mengantre ingin menikmati jamunya. Jarang jamunya ludes dalam waktu sesingkat ini.

Tapi kali ini mbok jamu tidak menjual jamunya. Melalui festival minum jamu yang diadakan pada 17-18 Februari 2018 di Plaza Ngasem Yogyakarta sebanyak 55 pedagang jamu membagikan jamunya secara gratis. Pasar Ngasem menjadi tempat diadakannya acara ini. Itulah mengapa ratusan orang mengantre untuk minum jamu, meski membagikan secara gratis pedagang jamu antusias karena jamu masih digemari berbagai kalangan.

Jamu tradisional selama ini diidentikan dengan orang tua dan kuno. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara mengatakan dalam sambutannya jamu merupakan bagian dari budaya jawa. Entah jamunya pahit atau manis itu adalah budaya kita yang harus dilestarikan. Inovasi tampaknya harus terus dilakukan untuk memikat konsumen muda, bisa dengan kemasannya yang lebih menarik.

Selaras dengan yang dikatakan GKR Bendara pengunjung juga merasa jamu sudah menjadi bagian dari budaya. “Sejak kecil sudah dibiasakan minum jamu oleh Ibu saya. Sekarang pedagang jamu keliling sudah susah ditemui. Jamu khasiatnya sangat baik untuk tubuh dibanding obat kimia,” jelas salah seorang pengunjung, Dita (22).

Antusiasme pengunjung yang masih menggemari jamu terlihat dari berapa gelas jamu yang diminumnya. Dewi Rukayah (46) sembari meneguk gelas keduanya ia mengaku memang menyukai jamu walau tidak rutin mengonsumsinya.

“Kadang seminggu sekali itupun hanya jamu rumahan. Jamu lebih aman karena kandungannya alamu,” ungkapnya.

Festival Minum Jamu menjadi suatu pembuktian bahwa jamu tradisional belum ditinggalkan masyarakat. Meski zaman semakin modern jamu tradisional tetap menjadi andalan meringankan sakit tubuh.

Penggemar jamu tradisional tetap ada dan bahkan justru bertambah. Terpenting jamu tradisional adalah bagian dari budaya luhur yang harus terus dijaga kelanggengannya. Masyarakat Yogyakarta masih menjaga budaya luhur tersebut dengan mengonsumsi jamu tradisional. (Nur Syafira Ramadhanti)

BERITA REKOMENDASI