Jangan ‘Stuck’, Pelaku Usaha di DIY Harus Pintar Cari Celah Peluang Pasar

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Para pelaku usaha baik UMKM maupun pengusaha di DIY diminta untuk menerapkan strategi membaca kebutuhan atau keinginan pasar sehingga tetap bisa beroperasional di masa pandemi Covid-19 saat ini. Pelaku usaha dan industri di DIY diharapkan tidak stuck atau berhenti beraktivitas dengan melakukan terobosan inovasi dan pintar mencari celah peluang pasar di tengah pandemi maupun kebijakan pengetatan yang diberlakukan.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menyampaikan Pengetatan Secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) di DIY hanya membatasi waktu, contohnya operasional dagang yang sebelumnya tidak dibatasi waktu sekarang dibatasi. Pembatasan waktu operasional sudah pernah dilakukan sebelumnya di masa awal -awal pandemi Covid-19 yang kemudian kini diperket kembali.

” Kami pun sudah berusaha membantu memberikan subsidi gratis ongkos kirim (ongkir) bagi pelaku UMKM DIY yang tergabung dalam platform Si Bakul Jogja secara online hingga saat ini. Bagi pelaku UMKM di DIY yang tidak online pun telah diminta berjualan sesuai dengan protokol kesehatan,” ujarnya kepada KR di Komplek Kepatihan, Rabu (27/1).

Menurut Made, jika para pelaku usaha dan pedagang di DIY benar-benar menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin maka bisa dilakukan pencegahan dari hulu. Pencegahan penyebaran virus Korona dari hulu inilah yang penting supaya penyebaran pandemi tidak semakin meluas kemana-mana.

” Sepanjang dibuka penuh atau jam operasional tidak dibatasi pun pembeli akan berkurang. Sebab selama konsumen merasa beresiko tentu tidak akan datang membeli. Sehingga triknya adalah bacalah kebutuhan pasar semisal bahan pokok pangan dan obat-obatan,” tandasnya.

Sementara itu, Made mengungkapkan konsumen atau masyarakat sendiri lebih memprioritaskan kebutuhan primer seperti bahan pangan daripada kebutuhan konsumtif saat ini. Sehingga pihaknya mendukung kemudahan berbelanja kebutuhan bahan pangan pokok secara online dengan gratis ongkir sejak awal pandemi tahun lalu hingga tahun ini.

” Jadi penerapan pembatasan jam operasional tersebut tidak bisa disalahkan sepenuhnya, mengingat animo pasar atau permintaan pasar berkurang. Semisal konsumen dari sektor pendidikan juga belum bisa diharapkan karena mahasiswa belum pembelajaran tatap muka. Sebab market di DIY sebenarnya paling besar adalah dari sektor pendidikan selain pariwisata,” terangnya.

Pemda DIY melalui Organisasi perangkat Daerah (OPD) terkait juga telah merekomendasikan program-program pendampingan dan pemberdayaan khususnya kepada pelaku UMKM. Program pendampingan tersebut antara lain peningkatan kualitas produk maupun kemudahan distribusi berupa gratis ongkir dengan memanfaatkan layanan pesan antar melalui marketplace yang ada. ” Semuanya harus bisa memanfaatkan peluang dengan tetap meningkatkan pelaksanaan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Saya kira, semuanya tetap bisa berjualan dan aktivitas ekonomi tetap bergulir tanpa mengabaikan yang utama faktor kesehatan,” imbuh Made. (Ira)

BERITA REKOMENDASI