Jelang Nataru, Waspadai Makanan Kadaluwarsa

YOGYA, KRJOGJA.com – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPDI) Yogyakarta bersama Balai Besar POM Yogyakarta melakukan pemantauan dan ketersediaan barang, termasuk keamanan pangan yang beredar menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2019.

Menurut Kepala BBPOM Rustyawati kegiatan dilakukan di 6 pasar tradisional dan beberapa grosir atau distributor pangan.  Sampling dilakukan oleh BBPOM di Yogyakarta di 6 titik yaitu di pasar Argosari – GK, pasar Piyungan – BTL,  pasar Bendungan – KP, pasar Beringharjo – YK, pasar Kranggan – YK, pasar Piyungan – BTL.

BACA JUGA :

Harga Naik, Ikan hingga Cabai DIY Malah Dikirim ke Luar Daerah

BBPOM Yogya Dukung Tercapainya Kantin Sekolah Sehat

"Dari 14 temuan, temuan terbanyak adalah ikan asin jenis teri (6 sampel-43%), cumi asin (3 sampel-19%), krupuk (3 sampel-19%).  Sedangkan untuk kue mangkok dan ikan balur asin masing-masing 1 temuan," ungkap Rustyawati sebagaimana keterangan persnya.

Kepala BBPOM menjelaskan kegiatan untuk pengawasan produk beredar adalah pemeriksaan ke sarana distribusi atau Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Natal dan Tahun Baru.  Jumlah sarana diperiksa sebanyak 69 dengan hasil 45 sarana memenuhi ketentuan dan 24 sarana (35%) tidak memenuhi ketentuan.

"Temuan terbanyak adalah pangan kadaluwarsa 60%, rusak (21%), TIE (7%), TMK label (3%).  Produk tanpa ijin edar sebagian berupa Bahan Tambahan Pangan (BTP) hasil repacking yang belum didaftarkan di Badan POM," paparnya.

Sebagaimana diketahui Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) DIY melakukan pemantauan bahan pokok di lima kabupaten-kota DIY selama satu minggu terakhir. Hasilnya, didapatkan fakta adanya kenaikan harga beberapa komoditas seperti bawang merah, bawang putih dan cabai yang mencapai angka 20 persen dari biasanya.

Ni Made Dwipanti Indrayanti, Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekda DIY menyebut kenaikan harga beberapa komoditas pokok terjadi karena beberapa hal diantaranya perubahan pola tanam akibat kemarau berkepanjangan. Namun, ada hal menarik yang juga terjadi di mana komoditas dari petani DIY justru dikirim ke luar daerah meski sebenarnya kondisi di dalam justru mengalami kenaikan

"Misalnya, Cabai dan Bawang Merah ada perubahan pola tanam karena kemarau panjang dan sisi produksi tak sebanyak sebelumnya karena sifatnya kan fluktiatif. Di samping itu teenyata komoditas dari DIY ini banyak yang keluar, cabai kita di bawa keluar. Sleman dan Kulon Progo itu banyak bahkan sempat panen raya kemarin, namun dikirim keluar, ke Kramat Jati. Kita justru dapat lagi kembali produk kita dari luar dulu,” ungkapnya dalam jumpa pers hasil pemantauan TPID menjelang Natal dan Tahun Baru, Senin (16/12/2019). (*)

BERITA REKOMENDASI