Jogja Cross Culture Jadi Langkah Awal Kebudayaan Yogya Dilihat Dunia

YOGYA, KRJOGJA.com Pilot Program yang mempunyai misi menjadikan “Kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya Dunia” dalam tajuk Jogja Cross Culture (JCC) akhirnya resmi dibuka pada Sabtu (3/08/2019). Festival ini digadang-gadang akan menjadi langkah awal keberlanjutan program-program kebudayaan di Kota Yogyakarta.

Menurut Program Director JCC RM Altianto Jogja Cross Culture bakal menunjukkan wajah Yogyakarta bukan lagi kepada lokalitas negeri saja tapi kepada dunia tentang tradisionalnya yang kental. Budayanya yang kuat, kemodernannya yang berkembang dan dinamis.

Serta banyaknya influence akar kebudayaan yang bermacam-macam. Hal itulah yang menjadikan Yogyakarta punya identitas kultural sehingga Yogyakarta sangat istimewa.

JCC sendiri diadakan dalam 2 hari pelaksanaan yang merangkum kegiatan kebudayaan dari berbagai bentuk. Akan tetapi sesuai penuturan RM Altianto (program director JCC), highlights dari JCC ini ada di bidang musik. Hal ini tidak serta merta mengurangi penampilan kebudayaan yang lainnya dalam festival JCC.

JCC 2019 ini didaulat menjadi pilot program road to 2020 yang mana acara ini masih menjadi sebuah langkah awal dan baru akan  secara utuh tertata secara sistem, jaringan, serta pencapainnya di tahun 2020 mendatang. Pengukuhan tersebut akan di deklarasikan oleh Walikota Kota Yogyakarta pada malam puncak JCC Minggu (04/08/2019).

Dalam peresmian JCC 2019 Wakil Walikota Yogyakarta yang juga menjadi Ketua Acara JCC 2019, Heroe Purwadi, menyampaikan tentang tujuan diadakannya festival ini. Ia mengatakan JCC 2019 bisa menunjukkan bahwa kota Yogyakarta mempunyai kekayaan budaya hasil dari persinggungan budaya yang bermacam-macam.

Ia meresmikan pembukaan JCC 2019 dengan memberikan wayang kayon kepada 9 dalang muda sebagai tanda dibukanya festival ini yang akan menjadi langkah awal program kebudayaan yang lain di kota Yogyakarta.

Sedangkan lokasi dipilihnya Titik Nol sebagai lokasi penyelenggaraan JCC selain karena alasan teknis juga karena alasan filosofis. Altianto menuturkan, Titik Nol Kilometer harus menjadi lokasi JCC karena tempat tersebut menjadi wajah kebudayaan kota Yogyakarta.

Bahkan segala bentuk aktifitas ada disini sejak beberapa abad yang lalu sekitar tahun 1755. Baik secara filosofi maupun tradisi Titik Nol punya makna yang luar biasa, secara kehidupan sosial juga, ikonik, hingga landmark kebudayaan dan kota yang bermacam-macam. Pemilihan ini bukan hanya sekadar bertujuan menarik masa saja, tapi filosofinya juga sangat kuat.

Untuk elemen yang terkait dalam festival JCC ini semua tergabung dalam filosofi “Gandeng Gendong” yang merupakan kumpulan dari banyak elemen di dalam kehidupan. Elemen tersebut terdiri atas kota dalam hal ini adalah pemerintah kota, kampung/masyarakat wilayah sebagai potensi utama, komunitas dari seniman/budayawan, kampus/intelektual, korporasi, dan yang terakhir dari pihak keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pihak tertinggi dalam kepemerintahan di Yogyakarta.

Festival JCC ini sendiri di dalamnya juga terlibat banyak dari Dinas Kebudayaan. Wulandari (Kabid seni, adat, dan tradisi) menjelaskan bahwa ide diselenggarakannya JCC ini berasal dari pihak Dinas Kebudayaan yang mana diserahkan untuk diproses oleh Altianto (program director). Dinas Kebudayaan menginisiasi dan mengoordinasikan sebuah acara yang dapat membuat suasana kebudayan yang utuh di kota Yogyakarta sehingga diadakanlah JCC 2019 untuk pertama kalinya dan menjadi acara tahunan.

Dengan adanya “danais/dana istimewa” menurut Wulandari, semua masyarakat dapat terlibat, mendukung, hadir, dan menciptakan suasana yang kondusif. Baik itu dalam hal keamanan, kebersihan, dan ketertiban lalu lintas sehingga semua elemen masyarakat bisa menikmati JCC dengan aman dan nyaman.

Dari pihak penyelenggara maupun pihak terkait berharap agar JCC 2019 menjadi peristiwa budaya yang bisa berlangsung tidak hanya kemeriahan acaranya, tapi sebetulmya pada proses interaksi masyarakat di kota Yogyakarta. Festivalnya ada pada proses penyelenggaraannya. Persiapan masyarakat diharapkan dapat menyebabkan interaksi langsung dengan seniman. Hal itu menjadikan adanya tranformasi skill dan pengetahuan, interaksi sosial menjadi hidup, dan masyarakat punya artistic/culture eksperience yang lebih.

 “Inilah kota yang kita cintai memang manjadi kota budaya, kesehariannya sudah melaksanakan “gandes luwes” yang artinya menjalankan keseharian dengan nilai kebudayaan tapi tidak mengesampingkan kekiniannya. Jika ada budaya asing harus lentur, bisa menerima dan berdampingan” Tutur Wulandari. (Yuva/Nurul – Mahasiwa Magang Universitas Negeri Malang)

BERITA REKOMENDASI