Kabupaten Sleman Punya Tingkat Pengangguran Terbuka Paling Banyak

YOGYA, KRJOGJA.com – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Daerah Istimewa Yogyakarta, Andung Prihadi Santosa, menyebut, jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT) DIY, paling banyak berasal dari Kabupaten Sleman, disusul Kota Yogya, Bantul, Gunungkidul dan Kulon Progo.

"Kalau dari struktur jumlah, TPT ada di Sleman. Mungkin banyak yang tinggal di sana. Karena penduduk terbesar tinggal di Sleman," kata Andung kepada KRJOGJA.com, Selasa (17/09/2019).

Menurutnya, tingkat pengangguran terbuka di DIY tahun 2018, data dari Baban Pusat Statistik survei tenaga kerja daerah, angkanya mencapai 3,35 persen. Meningkat lebih halus dibandingkan 2017.

"Memang meningkat jumlah penganggurannya tapi tidak banyak. Normal setiap tahun naik turun, tapi 2018 tidak ekstrem. Sementara untuk 2019, belum bisa dihitung," ucapnya.

Sekitar 73 ribu orang di DIY yang disurvei penduduk ber-KTP maupun yang tinggal di DIY, TPT perkotaan di Yogyakarta Agustus 2018 sebesar 4,07 persen lebih tinggi dibandingkan dengan TPT daerah pedesaan sebesar 1,60 persen. Hal ini terjadi karena di wilayah perkotaan memiliki sektor formal yang lebih banyak dibandingkan wilayah pedesaan.

Diketahui bahwa sektor formal lebih sulit dimasuki oleh para angkatan kerja yang menggunakan keahlian atau syarat-syarat tertentu dibandingkan sektor informal. Selain itu penduduk pedesaan biasanya tidak terlalu selektif memilih lapangan pekerjaan, sehingga akan melakukan kegiatan apa saja walau hanya sebagai pekerja keluarga, pekerja bebas pertanian.

Berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan pada Agustus 2018, tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan Universitas paling tinggi di antara tingkat pendidikan lain yaitu 8,28 persen. Tertinggi berikutnya adalah Diploma I II dan III dan Sekolah Menengah kejurusan SMK masing-masing 4,91 persen. Serta sekolah menengah umum sebesar 2,87 persen.

Lulusan perguruan tinggi, lanjut Andung, jangan berharap langsung bekerja di posisi yang tinggi. idealnya harus dimulai dari nol. Dan begitupun lulusan SMA/SMK.

"Jangan hanya mengandalkan ijazah, tambahi kompetensi lain, misalnya ikut pelatihan-pelatihan, kursus. Bekali diri dengan soft skill, paling utama adalah bahasa. karena sekarang sudah era globalisasi," pungkasnya. (Ive)

BERITA REKOMENDASI