Kampus Jangan Paksakan Tatap Muka, Ternyata Ini Penyebabnya

YOGYA (KR) – Tidak meredanya wabah virus Korona (Covid19) menjadi dilema bagi kota pendidikan, Yogyakarta. Di satu sisi, tidak ingin terjadi gelombang kedua wabah Covid-19 di Yogyakarta dan sekitarnya, namun di sisi lain, kehidupan ekonomi warganya akan terganggu dengan ketidakhadiran para mahasiswa dari berbagai daerah di Yogyakarta.

”Ini jadi dilema bagi semua pihak,” ujar Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil DIY, M Afnan Hadikusumo kepada KR, Minggu (2/8) menanggapi wabah Covid-19 yang tidak kunjung mereda di DIY.

Menurut Afnan, sebenarnya kunci dari penangkalan wabah ini adalah kedisiplinan dan kesadaran warga masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan di semua kesempatan. Petugas juga harus tegas jika ada
warga yang melanggar protokol kesehatan ini. Operasi dadakan harus terus dijalankan untuk mengingatkan warga yang melanggar atau lupa tidak melaksanakan protokol kesehatan.

Bagi Pemda DIY, kemungkinan datangnya gelombang mahasiswa untuk kembali kuliah akan diantisipasi. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X telah menggelar pertemuan denganstakeholders terkait, Kamis (30/7). Pemda berharap aktivitas perkuliahan akan dilakukan secara daring. Sedangkan kegiatan perkuliahan seperti praktikum yang tidak bisa dilakukan secara daring wajib mengedepankan protokol kesehatan. “Kalau menurut aturan kita masih akan memberlakukan dua metode tadi, daring dan luring, tergantung dengan jenis perkuliahannya.
Adapun untuk pendaftaran bisa lewat Jogjaversitas.id yang akan memungkinkan proses pendaftaran mahasiswa baru dilakukan secara daring. Jadi mereka tidak perlu datang ke Yogya untuk proses penerimaan mahasiswa baru,” kataKepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Prof Dr Didi Achjari MCom.

BERITA REKOMENDASI