Kebijakan Terkait Komite Audit dan Komisaris Independen Perlu Diperbaiki

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Skandal keuangan berupa praktik menajemen laba masih marak terjadi. Sebagian praktik manajemen laba tersebut dilakukan oleh manajemen senior perusahaan untuk memanipulasi kondisi keuangan, khususnya yang memberikan dampak ke laba bersih perusahaan.

Demikian dikatakan Country Director PT Trusting Social Indonesia, Ronald Tauviek Andi Kasim atau yang akrab disapa Ronny saat mempertahankan disertasinya dihadapan tim penguji dalam ujian terbuka promosi doktor di Auditorium Lt 5 Gedung Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM Yogyakarta, Sabtu (26/1/2019). Selaku Promotor Prof Dr Eduardus Tandelilin MBA PhD, Ko-Promotor Prof Dr Djokosantoso Moeljono dan Dr Jangkung Handoyo Mulyo MEc. Disertasi Ronny berjudul 'Good Corporate Governance dan Manajemen Laba: Pendekatan Model Regresi Data Panel Dinamis'. Ronny dinyatakan lulus dengan predikat 'Cumlaude'.

Menurut Ronny, salah satu praktik manajemen laba yang populer dan sering dilakukan oleh manajemen adalah kegiatan pencatatan discretionary accruals (akrual diskresi). Kegiatan ini adalah pengakuan akrual pendapatan atau akrual beban yang bebas tidak diatur dan merupakan pilihan atau atas diskresi manajemen. Beberapa perusahaan global terkenal seperti Enron, WorldCom dan Tyco pernah mengalami kesulitan keuangan disebabkan praktik manajemen laba.

Dijelaskan Ronny, skandal keuangan tersebut diyakini disebabkan kurang kuatnya pengawasan yang dilakukan terhadap kegiatan operasional dan keuangan perusahaan. Di negara seperti Indonesia yang mengadopsi sistem two-tier board yang terdiri dari dewan komisaris dan direksi, fungsi pengawasan operasional dan keuangan tersebut diemban oleh dewan komisaris dibantu komite audit.

"Efektivitas keberadaan komite audit tersebut dipertanyakan, karena semua perusahaan besar yang terkena skandal pasti sudah mempunyai komite audit seperti yang diatur oleh pengatur (regulator) mereka," tuturnya.

Penelitian Ronny menghasilkan beberapa penemuan yang mengejutkan, salah satunya keberadaan komisaris independen dan laporan keuangan yang diaudit oleh empat besar auditor (auditor ternama), malah mendorong praktik manajemen laba. Oleh karena itu, menurut Ronny, otoritas selayaknya memperbaiki kebijakan terkait komite audit, keberadaan komisaris independen dan pemakaian kantor akuntan empat besar, yang terbukti tidak berhasil meredam manajemen laba.

"Otoritas juga selayaknya mewajibkan seluruh perusahaan tercatat di BEI untuk diperingkat karena terbukti pemeringkatan berhasil mengurangi manajemen laba," pungkasnya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI