Keluarga Terdakwa ‘Pelempar Batu Suporter PSS’ Temui Sultan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Widyastuti seorang perwakilan keluarga Dewandaru Pingky, terdakwa pelemparan batu pada suporter PSS menemui Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Kamis (22/08/2019) siang. Widyastuti berniat mencari keadilan karena banyaknya kejanggalan pada kasus keponakannya yang hingga kini bersikukuh tak melakukan pelemparan batu pada korban saat itu.

Widyastuti mengungkap banyak kejanggalan terjadi sejak pertama kali keponakannya tersebut ditangkap bulan Januari 2019 lalu. Intimidasi kepolisian agar mengaku hingga penghapusan data riwayat ponsel dan upaya penghilangan bukti dari pihak keluarga menurut dia dialami sepanjang tujuh bulan perjalanan kasus tersebut.

“Kami keluarga sudah sangat bingung, kemarin anak kami (Dewandaru) sampai mau nglalu di lembaga pemasyarakatan karena putus asa. Dia masih tetap bersikukuh tidak melewati jalan Solo (TKP) saat itu dan saksi-saksinya tidak ada yang melihat. Kami yakin dan karena itu mau ketemu Ngarsa Dalem untuk mencari keadilan, kami sudah sangat bingung,” ungkapnya di Kompleks Kepatihan.

Keluarga juga merasa sangat kaget ketika mengetahui polisi melakukan penyadapan ponsel kedua orangtua Dewandaru yang membuat langkah-langkah yang akan dilakukan selalu saja menemui jalan buntu. “Kami ganti kuasa hukum sampai tiga kali, setiap lawyer berikan saksi selalu disetop dalam pengadilan itu, kami bingung ada apa. Data dalam handphone Dewandaru dan temannya itu juga tak bisa diakses, padahal dengan GPS jelas ketahuan di mana posisi mereka saat kejadian. Keluarga juga sudah membeli CCTV di lokasi kejadian tapi tidak bisa juga diakses, terkena virus atau apalah itu,” tandas dia.

Pihak keluarga menurut Widyastuti juga telah mengupayakan segala hal untuk mencari bukti-bukti pendukung bahwa Dewandaru tidak bersalah. Tujuh ahli IT dari tujuh negara berbeda seperti Filipina, Amerika, Inggris, Malaysia, Jerman dan Afrika diminta menunjukkan citra satelit saat kejadian yakni 19 Januari 2019 pukul 19.30 WIB hingga 20.00 WIB dan tak menemukan adanya motor Dewandaru melintas.

“Dari citra itu tidak ada motor Scoopy Cream milik Dewandaru melintas di lokasi kejadian, hanya ada motor hitam baik pukul 20.00 maupun 19.30 WIB saat kejadian. Tapi, bukti rekaman yang dikirimkan dari Jakarta berisi hasil analisis citra satelit itu dirampas orang di jalan saat mau dikirimkan ke rumah kami,” tandas dia lagi.

Tak hanya merasa puteranya tak bersalah, keluarga menurut Widyastuti juga mengungkap adanya penyiksaan yang dialami saat proses penyelidikan dan penyidikan di tahanan. “Paling terlihat di mata, badan lebam dan kaki. Dia saat itu sampai harus dipapah, itu kejadian malam kedua di Polres Sleman, saat itu sama sekali tak boleh kami foto. Ketemu boleh tapi kondisinya seperti itu,” ungkapnya lagi.

“Kalau memang anak kami salah, silahkan hukum keluarga tidak keberatan. Tapi kalau tidak salah dan dipaksa bersalah ya kami tidak bisa menerima. Karena itu kami ingin mencari keadilan pada Sultan hari ini,” pungkasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI