Kelulusan Ditentukan Sekolah

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI kembali menghapus Ujian Nasional (UN) pada tahun ajaran kali ini. Dengan begitu kelulusan siswa tetap menjadi kewenangan pihak sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogya Budi Santoso Asrori, mengungkapkan tahun 2020 lalu pelaksanaan UN juga ditiadakan akibat pandemi. ”Terkait kelulusan diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Sama seperti tahun 2020 kemarin,” jelasnya.

Mekanisme penentuan kelulusan bisa dilakukan melalui evaluasi nilai rapor maupun hasil penugasan. Bahkan pihak sekolah juga diperbolehkan menggelar ujian sekolah baik secara daring maupun luring. Pada tahun lalu Disdikpora Kota Yogya menyelenggarakan ujian akhir secara daring, sedangkan tahun ini pun masih dikaji.

Budi mengaku, pihaknya justru masih melakukan evaluasi terkait proses pembelajaran daring yang sudah berjalan satu tahun belakangan. Terutama menyangkut metode yang dilakukan pihak sekolah serta capaian target kurikulum.

”Kita masih belum tahu sampai kapan pembelajaran daring akan berjalan. Sehingga efektivitas metode yang digunakan justru paling penting untuk saat ini. Harapannya meski belajarnya tidak saling tatap muka namun materinya bisa tetap sampai ke anak didik,” urainya.

Di samping itu, peniadaan UN juga bisa berdampak pada skema Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Meski demikian, Budi menilai peniadaan UN dengan PPDB merupakan dua hal yang berbeda. Akan tetapi pihaknya juga sudah mulai mengkaji skema PPDB tahun ajaran 2021/2022.

Salah satu upayanya ialah menjalin koordinasi yang sinergis dengan Disdikpora DIY dan kabupaten lain. Hal ini karena PPDB harus menggunakan parameter terukur, spesifik dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga parameter di tiap daerah seharusnya ada kesamaan.

”Skema PPDB masih nanti namun sudah kita mulai kaji. Harapannya nanti ada parameter yang terukur. Apalagi jarak wilayah seperti kota, Bantul dan Sleman relatif tidak ada perbatasan yang ekstrem,” katanya. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI