Kemacetan dan Kantong Parkir Masih Jadi ‘PR’ Kota Yogya

YOGYA, KRJOGJA.com – Yogyakarta yang identik sebagai kota pendidikan dan budaya selalu menjadi magnet bagi para wisatawan setiap musim liburan. Tidak mengherankan dalam libur Natal dan Tahun baru kali ini, Yogyakarta menjadi salah satu tempat tujuan wisata andalan.

Meski menjadi tempat tujuan wisata, namun masalah kemacetan, kebersihan dan keterbatasan kantong parkir, masih menjadi 'PR' bagi DIY yang membutuhkan penangganan serius.

"Kemacetan yang terjadi di DIY ada kecenderungan tidak hanya terjadi saat libur panjang seperti natal dan tahun baru, tapi juga saat weekend. Kemungkinan hal itu terjadi karena akses jalan darat menuju DIY sudah semakin bagus. Sehingga saat menikmati liburan masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dibandingkan dengan angkutan umum.Oleh karena itu Dinas Perhubungan DIY dan kabupaten /kota bisa menintensifkan koordinasi," kata Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Drs K Baskara Aji di Kompleks Kepatihan, Kamis (2/1/2020).

Baskara Aji mengungkapkan, meski Pemda DIY maupun Pemkot Yogyakarta sudah berupaya untuk menambah jumlah kantong parkir di sejumlah titik. Namun pihaknya tidak memungkiri bahwa penambahan jumlah kantong parkir tersebut belum sepenuhnya bisa menjadi solusi kemacetan. Kondisi tersebut akan dijadikan bahan evaluasi bersama. 

Sementara untuk rencana penerapan pedesterian secara penuh di Kawasan Malioboro sampai saat ini belum ada keputusan. Karena seandainya kebijakan itu diterapkan, harus diimbangi dengan ketersediaan kantong parkir.

"Kalau soal evaluasi kebersihan selama libur Natal dan Tahun Baru belum dapat laporan detail. Namun kekurangan yang ada saat ini akan kami jadikan bahan evaluasi,"ujarnya.

Terpisah Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY Udhi Sudiyanto menyampaikan secara umum Yogyakarta masih menjadi magnet utama wisatawan selama libur akhir tahun ini dan tingkat negatifnya sangat minimal.  Persoalan sampah, kemacetan dan terbatasnya kantong parkir masih menjadi PR tersendiri bagi Yogyakarta yang harus diatasi bersama-sama baik pemerintah, stakeholder terkait maupun masyarakat.  

"Ada sisi positif dan negatifnya tentu apabila jumlah kunjungan wisatawan di DIY mengalami peningkatan signifikan selama liburan akhir tahun ini" ujar Udhi kepada KRJOGJA.com di Yogyakarta, Kamis (2/1/2020) malam.

Udhi menjelaskan daya tarik Yogyakarta semakin bertambah ketika orang nomor satu di Indonesia yaitu Presiden Joko Widodo menghabiskan malam tahub baru di Yogyakarta. Hal ini merupakan sebuah momen bagi Yogyakarta untuk mempromosikan diri sebagai destinasi wisata. 

"Tentu dampaknya masalah kemacetan, sampah dan sebagainya merupakan hal yang harus dibenahi bersama. Wisatawan banyak mengeluhkan bingung kantong parkirnya dimana, ini harus terus ditingkatkan Pemkot Yogyakarta atau ide-ide untuk mengatur lalu lintas di Kota Yogyakarta," tandasnya.

Menurut Udhi, wisatawan lebih banyak yang menggunakan kendaraan pribadi seiring dibukanya jalur tol Trans Jawa. Kemudahan akses infrastruktur ini juga menambah kendaraan pribadi yang masuk ke Kota Yogyakarta.

"Kita tetap harus menyikapinya kondisi tersebut dengan memberikan alternatif kantong parkir semisal ke Malioboro. Intinya jangan sampai membiarkan mereka tidak diperhatikan, jadi ini merupakan PR luar biasa khususnya parkir dan kemacetan," imbuhnya.

Untuk itu, pihaknya meminta adanya kerjasama Pemda setempat baik provinsi, kabupaten/kota agar bisa menyelesaikan PR tersebut dengan baik. Disamping parkir dan kemacetan, persoalan yang muncul adalah banyaknya sampah khususnya sampah plastik.

"Kunci soal sampah ini adalah kesadaran bersama khususnya masyarakat, mereka masih perlu edukasi. Termasuk produsen juga diminta krsadaranya untuk membuat kemasan ramah lingkungan jadi dari hulu dan hilir harus diberikan edukasi kesadaran untuk membuang sampah di tempatnya dan menjaga kebersihan bersama-sama," tutur Udhi. (Ria/Ira)

BERITA REKOMENDASI