Kemacetan dan Parkir, Problem Pengembangan Pariwisata DIY

YOGYA, KRJOGJA.com – Pengembangan pariwisata berkelanjutan adalah bagian dari strategi untuk menguatkan pilar perekonomian daerah. Adapun bentuknya dengan memberdayakan segenap potensi yang dimiliki, termasuk mensinergikan dengan budaya dan pendidikan. Untuk itu, alangkah baiknya apabila kegiatan yang direncanakan, apakah itu didanai lewat APBD reguler maupun dana keistimewaan (Danais), benar-benar didesain secara matang. 

Baca Juga: Kemacetan dan Kantong Parkir Masih Jadi 'PR' Kota Yogya

"Kegiatan yang didesain matang tentunya akan menekankan potensi hambatan saat pelaksanaan. Komitmen ini kembali saya tegaskan bahwa output kegiatan yang dihasilkan dari input yang bersumber dari uang rakyat. Harus benar-benar memiliki kemanfaatan yang riil dan bisa dirasakan. Kita semua sudah berorientasi pada result oriented goverment. Sehingga pelaksanaan program sudah harus berkualitas," papar Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwana X dalam acara Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Triwulan IV di Hotel Grand Inna Malioboro, Kamis (23/1/2020). 

Sultan mengungkapkan, keberlanjutan pembangunan daerah yang didorong pertumbuhan sektor pariwisata sebagai salah satu tulang punggung perekonomian, harus terus dijaga momentumnya. Karena pertumbuhan ekonomi DIY menunjukkan adanya laju penurunan pasca investasi Bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) sudah mendekati tahap akhir. Artinya pertumbuhan sektor andalan yang mendorong stabilitas, sebagaimana pertumbuhan pariwisata, perlu didukung melalui aktifitas perekonomian yang produktif. 

"Perekonomian masyarakat perlu diberi akses secara merata, baik dari aspek hulu hingga hilir. Titik lemah pengembangan wilayah harus diperkuat melalui dukungan Sarpras yang memadai. Sehingga laju pertumbuhan ekonomi bisa berjalan dan kesejahteraan akan terus mengalami perbaikan. Dengan begitu dapat menurunkan kemiskinan dan menekan ketimpangan," jelasnya. 

Sementara Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Budi Wibowo menyampaikan pertumbuhan ekonomi DIY pada 2019 diperkirakan mencapai 6,3 hingga 6,7 persen. Sektor unggulan dalam perekonomian DIY 2019 hingga 2020 dengan sub sektor unggulan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru berupa tekstil dan produk tekstil, furniture, makan minum, akomodasi, pariwisata dan ekonomi kreatif berupa animasi dan games.  

"Kita juga mengembangkan community based tourism guna mengingkat pariwisata sekaligus mengurangi kemiskinan. Di balik upaya pengembangan destinasi wisata strategis sebagai upaya menekan ketimpangan wilayah masih terdapat problem," ujar Budi Wibowo. 

Budi menjelaskan problem pengembangan wisata DIY selama 2019 yaitu kemacetan, parkir liar, sampah, harga nuthuk, polusi, pemalakan, keamanan dan kenyaman. Pemda DIY cukup masif membangun sarpras wisata pada destinasi pada wilayah pinggiran khususnya Gunungkidul dan Kulonprogo pada 2015 hingga 2019. Selain kenyamanan dan refreshing, pembangunan wisata memerlukan kepastian dan citra karena pariwisata adalah sektor strategis yang memicu pertumbuhan wilayah secara berkelanjutan.  

Baca Juga: Duh.. Ratu Keraton Agung Sejagat Ternyata 'Rewel'

Dalam Rakordal Triwulan IV 2019 ini juga digelar talkshow bertema pengembangan wisata diambil dengan pertimbangan, ketika musim liburan tiba situasi wilayah DIY sangat crowded dengan segala problematikanya, termasuk dukungan DIY terhadap pengembangan wisata kawasan Borobudur.  Talkshow tersebut menghadirkan narasumber yaitu Staf Ahli Kemenlu Bidang Diplomasi Ekonomi/Eks Dubes RI untuk PBB 2016-2019 Ina Hagningtyas Krisnamurthi, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata RI Rizky Handayani Mustafa dan Akademisi sekaligus praktisi pariwisata DIY Ike Janita Dewi.

Sedangkan untuk hasil penilaian Rakordal TW IV 2019, diumumkan peringkat OPD terendah dan tertinggi selama 2019 untuk kinerja Pengguna Anggaran (PA) tertinggi diraih Biro Tata Pemerintahan Setda DIY dan terendah Dinas Kominfo DY. Kinerja Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) tertinggi diraih Bapel Jamkesos dan terendah Rumah Sakit Paru Respira. (Ria/Ira)

BERITA REKOMENDASI