Kemenag Godog Sejumlah Skema, Diwacanakan Haji dengan Kapal Laut

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kemungkinan besar, tahun 2022 mendatang ada pemberangkatan jemaah haji dari Indonesia, apakah dengan jumlah jemaah normal, 50 persen, 30 persen, 20 persen atau hanya 10 persen. Namun karena masih dalam masa pandemi, pemberangkatan harus menggunakan protokol kesehatan (Prokes), antara lain sebelum berangkat harus dikarantina 5 hari di asrama haji dan karantina 5 hari setiba di Tanah Suci.

“Dengan begitu nanti jemaah harus dikarantina sepuluh hari,” kata Sekjen Kemenag RI Prof Dr H Nizar Ali MAg pada Sosialisasi Pembinaan Haji di Masa Pandemi di Novotel Suites Malioboro, Selasa (19/10) sore. Acara yang berlangsung sampai Kamis (21/10/2021) besok ini dibuka Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag RI, Prof Hilman Latief PhD.

Karena harus karantina 10 hari, Prof Nizar Ali mewacanakan penggunaan kapal laut, di samping dengan pesawat terbang, khususnya untuk daerah-daerah yang saat menuju embarkasi melewati laut. Dengan begitu, karantina langsung dilakukan di kapal laut. Setelah menempuh perjalanan sembilan hari di kapal yang sekalian karantina, begitu sampai Jeddah langsung menuju hotel pemondokan.

“Dengan kapal laut biayanya juga jauh lebih murah, hanya seribu dolar untuk PP, jadi sekitar Rp 15 juta untuk angkutan, sedang kalau memakai pesawat terbang PP sekitar Rp 28 juta,” paparnya.

Selain karantina, selama di kapal laut jemaah juga bisa diberi tambahan manasik haji. Karena itu jumlah petugas haji juga ditambah, disamping petugas kesehatan. “Dengan begitu juga akan mengurangi biaya karantina,” tambahnya.

Ditambahkan, saat ini pemerintah sedang melakukan lobi untuk memastikan adanya pemberangkatan haji di tahun 2022 nanti. Sedang untuk pelaksanaannya disiapkan sejumlah skema. (Fie)

BERITA REKOMENDASI