Kemendikbud Alokasikan Dana Rp 900 M untuk Pelatihan Guru

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Peningkatan kompetensi dan profesionalisme tenaga pendidik menjadi fokus dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Bahkan sebagai bentuk keseriusan dari hal itu, pada tahun 2019 Kemendikbud telah mengalokasikan dana sebesar Rp 900 miliar untuk pelatihan guru. Dengan pelatihan tersebut diharapkan mutu dan profesionalitas guru bisa menjadi lebih baik.

“Seiring tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, Kualitas dan profesionalitas guru perlu secara terus menerus ditingkatkan. Meskipun guru yang sudah bersertifikat telah dinyatakan sebagai guru profesional, tetapi kompetensinya harus terus menerus ditingkatkan apalagi guru yang belum bersertifikat berarti secara formal belum dinyatakan profesional,” papar Wakil Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) DIY, Prof Dr Buchory MS MPd.

Buchory mengungkapkan, upaya Kemendikbud untuk mengadakan pelatihan guru, perlu diimbangi dengan sikap proaktif dan keseriusan dari peserta. Karena untuk mengadakan pelatihan tersebut, Kemendikbud membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, agar pelatihan tersebut bisa berjalan efektif dan efisien, alangkah baiknya sebelum kegiatan pelatihan tersebut diadakan tes untuk menjajagi bidang apa yang sangat dibutuhkan oleh guru.

“Apakah penguasaan materi mata pelajaran ( kompetensi profesional) yang masih kurang atau penguasaan metodologi pembelajarannya (kompetensi pedagogik. Dengan mengetahui kompetensi apa yang kiranya masih lemah, sehingga materi pelatihan fokus pada yang masih lemah,” ungkap Buchory.

Pakar Pendidikan dari Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) itu menambahkan, supaya target yang sudah ditentukan nantinya bisa benar-benar tepat sasaran, materi pelatihannya disesuaikan dengan kebutuhan guru, peserta pelatihan yang berbasis MGMP. Tindakan itu perlu dilakukan agar lebih mudah penyampaian dan pemahaman terhadap peserta.

Selain itu, supaya lebih efisien maka pelaksanaan pelatihan berbasis zonasi, sehingga bisa lebih hemat dari sisi biaya. “Setelah peserta selesai mengikuti pelatihan, peserta harus bisa mengimplementasikan materi pelatihan dalam proses pembelajaran. Selain itu mereka perlu mendalami bersama serta mendiskusikan dalam setiap pertemuan MGMP termasuk menyebarkan kepada guru sejawat yang belum mengikuti pelatihan,”tambahnya. (Ria)

BERITA REKOMENDASI